Dalam memandang suatu masalah terkadang orang dapat mempunyai opini yang berbeda bahkan bertolak belakang, padahal yang dialaminya adalah hal yang sama. Berikut sebuah cerita yang dapat kita ambil hikmahnya.
Ada sebuah perusahaan yang memproduksi sepatu. Perusahaan ini ingin mengembangkan pemasarannya hingga daerah pedalaman. Sebelum memasarkan sepatu, perusahaan ini ingin meneliti terlebih dahulu apakah daerah tersebut potensial sebagai daerah pemasaran produk perusahaan tersebut. Untuk mendapatkan hasil survey yang lebih valid perusahaan ini tidak mengirimkan satu orang surveyor, melainkan mengirimkan dua orang surveyor yang bekerja sendiri-sendiri dan harus melaporkan hasil surveynya masing-masing pula. Mereka tidak boleh saling bekerja sama dalam mempelajari daerah tersebut. Kedua surveyor tersebut akan tinggal di daerah pedalaman tersebut selama beberapa hari untuk mempelajari daerah tersebut.
Perjalanan pun dilakukan oleh kedua surveyor, medan perjalanan yang dilalui cukuplah sulit dan membutuhkan waktu yang lama. Setelah berjam-jam dalam perjalanan akhirnya sampailah kedua surveyor ini di daerah tersebut. Karena hari sudah malam maka mereka menginap di sebuah penginapan dan akan memulai mempelajari daerah itu keesokan harinya.
Pagi hari mereka mulai melakukan survey dari pusat ke pelosok daerah tersebut. Di hari pertama mereka berpisah dengan arah berlawanan, surveyor yang satu ke arah barat sedangkan surveyor yang lain ke arah timur. Keesokannya mereka betukar arah, dan begitu seterusnya sehingga mereka dapat melakukan survey ke segala penjuru arah baik timur.barat, utara, maupun selatan. Dan mereka melakukan dari pusat hingga pelosok. Hal ini dilakukan agar mereka tidak saling mempengaruhi hasil survey mereka.
Setelah mereka melihat kehidupan di daerah tersebut mereka kaget melihat kenyataan bahwa seluruh penduduk daerah tersebut tidak ada yang memakai alas kaki, baik sandal maupun sepatu. Mereka telah melakukan survey ke seluruh daerah tersebut dan tidak ada yang memakai alas kaki. Setelah survey dilakukan mereka kembali ke kota untuk melaporkan hasil suvey mereka.
Setelah sampai di perusahaan mereka, bos mereka memanggil mereka satu persatu untuk melaporkan hasilnya. Surveyor pertama dipanggil terlebih dahulu.
“Bagaimana keadaan di sana?apakah produk kita cocok dipasarkan di sana?” Tanya Bos
Surveyor pertama menjawab. “Setelah saya survey ternyata disana seluruh penduduknya tidak memakai alas kaki. Tua-muda, pria-wanita, kaya-miskin, semuanya tidak ada yang memakai alas kaki. Sepertinya mereka tidak terbiasa memakai alas kaki, saya berkesimpulan produk sepatu tidaklah cocok dipasarkan disana. Perusahaan kita akan rugi jika kita memasarkan di sana, sebab produk kita tidak akan laku, ditambah lagi perjalanan ke sana yang cukup sulit. Jadi saran saya jangan pasarkan produk kita disana”.
“Baiklah kalau begitu, terima kasih atas laporannya”. Kata Bos. Dalam hati bos bertanya-tanya apakah benar laporan tersebut. Kemudian ia memanggil surveyor kedua untuk melaporkan hasilnya dan memastikan apakah laporan dari surveyor pertama benar atau tidak. Si Bos menanyakan hal yang sama kepada surveyor kedua.
“Bagaimana keadaan di sana?apakah produk kita cocok dipasarkan di sana?” Tanya Bos
Surveyor kedua pun menjawab “Setelah saya survey ternyata disana seluruh penduduknya tidak memakai alas kaki. Tua-muda, pria-wanita, kaya-miskin, semuanya tidak ada yang memakai alas kaki. Hal ini adalah kesempatan bagi kita untuk memasarkan produk kita disana. Peluangnya sangat besar karena belum ada produk lain dan mungkin produk kita merupakan sepatu yang pertama kali disana. Jadi saran saya jangan ragu-ragu untuk memasarkan produk kita disana.”
“Baiklah kalau begitu, terima kasih atas laporan dan sarannya”. Kata si Bos kepada surveyor kedua.
Singkat cerita si Bos senang dengan keoptimisan surveyor dan akhirnya sepatu produk perusahaan tersebut laris di daerah pedalaman tersebut, dan surveyor kedua pun menjadi salah satu petinggi di perusahaan tersebut.
Pelajaran yang dapat diambil dari kisah di atas adalah bagaimana melihat peluang, terkadang orang melihat hal yang sama tetapi berbeda dalam melihat peluang. Dalam melakukan pekerjaan apapun diperlukan kejelian dalam melihat peluang, terlebih dalalam melakukan usaha sendiri. Banyak hal-hal yang mungkin dapat dijadikan bisnis, namun karena kita tidak jeli melihatnya maka kesempatan tersebut berlalu begitu saja.
Blog ini berisi artikel yang semoga bermanfaat khusunya bagi penulis pribadi dan pembaca umumnya. khusus untuk penulis, blog ini diharapkan menjadi suatu catatan yang bermanfaat pada saat menghadapi masalah.
Senin, 31 Januari 2011
Minggu, 30 Januari 2011
Karena Sebuah Email Saja.....
Banyak orang yang bilang ingin mempunyai usaha sendiri namun sedikit dari mereka yang akhirnya memiliki usaha bahkan belum mencobanya. Biasanya dikarenakan pemikiran bahwa memulai usaha itu butuh modal dan sekarang belum punya modal.
Alasan tersebut tidak lah salah, untuk memulai suatu usaha memang membutuhkan modal. Namun yang jadi pertanyaan berapa sih modal yang harus disiapkan untuk menjalankan suatu usaha?
Jika ada suatu usaha yang hanya butuh modal yang sedikit apakah mau memulainya?Sebenarnya jika kita mau mencoba, banyak usaha yang dapat dilakukan tanpa modal yang besar. Ada sebuah kisah (entah nyata atau tidak) yang dapat kita ambil manfaatnya.
Ada seorang pengangguran yang melamar sebagai office boy di sebuah perusahaan besar, kemudian pengangguran tersebut menunjukkan kepada HR untuk membersihkan lantai sebagai tes. Ternyata HR menerima si pengangguran tersebut dan meminta pengangguran tersebut untuk meninggalkan alamat email kepada HR. Namun sayangnya si pengangguran tidak memiliki alamat email, akhirnya si pengangguran ditolak oleh perusahaan tersebut. Akhirnya si pengangguran keluar dengan putus asa dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Pengangguran tersebut memutuskan untuk membeli tomat dengan uang yang ada. Dia kemudian mencoba menjualnya dari pintu ke pintu, dalam waktu yang tidak lama tomat tersebut habis terjual dan ia mendapatkan keuntungan. Dia mengulangi hal itu hingga tiga kali. Dia berpikir dengan cara seperti ini, dia bisa bertahan hidup. Beberapa tahun kemudian dia menjadi salah satu dari retailer makanan terbesar di amerika serikat.
Kemudian dia memutuskan untuk memilikii asurasnsi jiwa. Agen asuransi menanyakan alamat email kepadanya, dan dia menjawab bahwa dia tidak memiliki email. Kemudian agen asuransi tersebut bertanya, “anda tidak memiliki email, tapi telah sukses mempunyai kerajaan bisnis. Bisa anda bayangkan jika anda memiliki email?” dia menjawab, “Ya, saya akan menjadi seorang office boy”.
Kisah diatas menunjukkan untuk memulai usaha memang butuh modal, akan tetapi tidak harus besar, dan yang paling penting adalah untuk memulainya.
Alasan tersebut tidak lah salah, untuk memulai suatu usaha memang membutuhkan modal. Namun yang jadi pertanyaan berapa sih modal yang harus disiapkan untuk menjalankan suatu usaha?
Jika ada suatu usaha yang hanya butuh modal yang sedikit apakah mau memulainya?Sebenarnya jika kita mau mencoba, banyak usaha yang dapat dilakukan tanpa modal yang besar. Ada sebuah kisah (entah nyata atau tidak) yang dapat kita ambil manfaatnya.
Ada seorang pengangguran yang melamar sebagai office boy di sebuah perusahaan besar, kemudian pengangguran tersebut menunjukkan kepada HR untuk membersihkan lantai sebagai tes. Ternyata HR menerima si pengangguran tersebut dan meminta pengangguran tersebut untuk meninggalkan alamat email kepada HR. Namun sayangnya si pengangguran tidak memiliki alamat email, akhirnya si pengangguran ditolak oleh perusahaan tersebut. Akhirnya si pengangguran keluar dengan putus asa dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Pengangguran tersebut memutuskan untuk membeli tomat dengan uang yang ada. Dia kemudian mencoba menjualnya dari pintu ke pintu, dalam waktu yang tidak lama tomat tersebut habis terjual dan ia mendapatkan keuntungan. Dia mengulangi hal itu hingga tiga kali. Dia berpikir dengan cara seperti ini, dia bisa bertahan hidup. Beberapa tahun kemudian dia menjadi salah satu dari retailer makanan terbesar di amerika serikat.
Kemudian dia memutuskan untuk memilikii asurasnsi jiwa. Agen asuransi menanyakan alamat email kepadanya, dan dia menjawab bahwa dia tidak memiliki email. Kemudian agen asuransi tersebut bertanya, “anda tidak memiliki email, tapi telah sukses mempunyai kerajaan bisnis. Bisa anda bayangkan jika anda memiliki email?” dia menjawab, “Ya, saya akan menjadi seorang office boy”.
Kisah diatas menunjukkan untuk memulai usaha memang butuh modal, akan tetapi tidak harus besar, dan yang paling penting adalah untuk memulainya.
Langganan:
Postingan (Atom)