Selasa, 01 Februari 2011

Kisah perlombaan kodok menaiki menara

Sebuah kisah di dunia kodok, terdapat sebuah perlombaan yang sangat popular dan bergengsi, yaitu perlombaan menaiki puncak menara. Pemenang adalah kodok yang berhasil mencapai puncak menara yang pertama. Perlombaan ini merupakan perlombaan yang sulit, tidak banyak kodok yang dapat mencapai puncak menara.

Pada hari diadakannya perlombaan, semua kodok berkumpul di arena perlombaan, baik yang mengikuti lomba maupun hanya menonton. Peserta perlombaan pun dari berbagai jenis, karena perlombaan ini bebas untuk siapa pun. Banyak kodok yang berlatih keras agar bisa menjadi pemenang, namun ada pula yang hanya untuk memeriahkan perlombaan saja.

Perlombaan di mulai dengan aba-aba sebuah tembakan. Menjelang dimulainya perlombaan, semua peserta telah siap berada di belakang garis start. Juri pun telah siap menembakan aba-aba.

“Satu!!! Dua !!! Tiga!!! Duarrrr!!!” juri memberikan aba-aba bahwa perlombaan telah di mulai.
Semua peserta sangat antusias dan semangat untuk mencapai puncak. Selang beberapa menit kemudian beberapa kodok berjatuhan dan yang lainnya tetap bertahan. Sejam kemudian mulai banyak peserta yang menyerah dan akhirnya turun. Perlombaan bagai seleksi alam hingga tinggal sedikit peserta yang tersisa.

“Perlombaan ini sulit sekali, aku sudah berlatih sekeras, namun ini benar-benar diluar dugaan.”ujar salah satu kodok yang telah gugur.

Pernyataan tersebut disetujui oleh kodok-kodok lain yang telah gugur. tengah hari pun lewat, hanya tersisa 5 kodok yang sudah kewalahan namun tetap memaksakan untuk tetap memanjat menara tersebut.

“Sudahlah, jangan dipaksakan jika memang tidak sanggup” teriak penonton kepada peserta yang tersisa.

Mulailah dari 5 kodok tersebut jatuh satu persatu, namun ada satu kodok kecil yang tetap memaksakan kemampuannya.

“hai, kodok kecil jangan paksakan kemampuanmu, semua kodok yang lebih besar dari mu saja sudah gugur semua”. Salah satu penonton berteriak menasihati.

“hooi, turunlah kodok kecil, perlombaan ini tidak mungkin diselesaikan, jangan paksakan dirimu!!!” teriak kodok yang gugur terakhir menasihati.

Si Kodok kecil walaupun tinggal satu-satunya peserta, ia tetap tidak peduli apa kata penonton. Ia tetap memanjat walopun badannya sudah lemas. Penonton pun banyak yang khawatir akan keselamatan si kodok kecil. Karena jika kodok kecil pingsan bisa-bisa dia jatuh dari ketingggian menara yang sudah ia capai. Penonton pun banyak yang tidak tega melihat kodok kecil akhirnya pulang.

Tiga puluh menit berlalu si kodok tetap bersikeras memanjat. Tiba-tiba kodok berteriak diikiuti dengan teriakan penonton dengan suka cita. Tak disangka-sangka akhirnya kodok kecil mencapai puncak dan dengan demkian ialah pemenang perlomaban ini.

Sorak sorai dari penonton pun menyambut kemenangan si kodok kecil. Begitu pula si kodok kecil senang bukan main dengan kemenangannya ini.

Kemudian kodok tersebut turun dari menara untuk menerima piala sebagai pemenang. Peserta lain pun memberikan ucapan selamat kepada si kodok kecil.

“hai, kodok kecil, bagaimana kamu bisa menang, padahal kami saja tidak sanggup menyelesaikannya?”Tanya salah satu dari peserta yang gugur.

Namun si kodok kecil diam tidak menjaab pertanyaan tersebut. Setelah di selidiki ternyata si kodok kecil tersebut tuli. Dia tidak bisa mendengar.

Dari kisah ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa disekitar kita banyak sekali kata-kata negatif yang membuat semangat kita turun. Kadang-kadang kita harus bersikap seperti orang tuli untuk menanggapi kata-kata negatif dari sekitar kita. Jangan dengarkan kata-kata yang membuat semangat ini turun. Terkadang memang kita terbawa suasana yang membuat kita tidak semangat.

Begitu pula jika kita ingin mempunyai usaha sendiri, mungkin banyak orang disekitar kita yang bilang bahwa usaha kita tidak akan maju, ga akan bertahan lama, dll. Inilah yang harus diwaspadai agar kita tidak gampang menyerah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar