Rabu, 10 Maret 2021

Apakah Tuhan itu ada (part 1)

By: Panjul

Intermezzo:

Saat ini saya tinggal di negara yang mungkin bisa dibilang mayoritas penduduknya adalah ateis. Saya pernah bertanya kepada salah seorang kolega saya tentang hal ini. Kurang lebih alasan beliau ateis adalah karena beliau tidak mempunyai alasan untuk beragama. Di lain waktu, teman saya (orang yang berbeda dari kasus sebelumnya) sedang ada pekerjaan yang agak sulit karena hasilnya selalu tidak seperti yang diharapkan. Saat itu dia berkata kurang lebih intinya seperti ini “I pray so the result will be good”. Ketika saya mendengar hal tersebut saya bilang: “Who do you pray to? Don’t you believe in god?” kemudian dia meralat menjadi “I wish the result will be good”.

Disclaimer: percakapan yang saya tulis diatas mungkin tidak tepat seperti percakapan sebenarnya namun intinya sama.

Mengapa orang menjadi ateis?

Saya pernah coba searching di salah satu plaform website tanya jawab online yang mana ada pertnyaan serupa, yaitu “mengapa Anda menjadi ateis?”

Berabagai macam alasan disebutkan dalam jawaban pertanayaan tersebut. Dibawah ini adalah ringkasan  dari jawaban jawaban tersebut:

  1. Karena ketuhanan tidak masuk akal
  2. Merasa doa saya jarang terkabul,
  3. Pengalaman hidupnya yang mempertanyakan kepada agama namun tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Dari tiga alasan diatas, mungkin alasan nomor 3 tiga yang paling banyak menjadi penyebab beralihnya orang yang beragama menjadi ateis. Entah kenapa akhir2 ini topik ini terus melintas di pikiran saya, sehingga saya ingin mencoba memikirkan lebih dalam dari dasar pemikirannya.

“Ateis” atau dalam bahasa inggris “Atheist’ dedifiniskan sebagai orang yang tidak mempercayai bahwa Tuhan itu ada. Dari definisi ini, saya akan ambil kata kunci yang saya anggap paling penting yaitu “ADA (EXIST)”. Kenapa saya anggap ini yang paling penting? Karena kata inilah yang memberdakan antara ateis dan teis.

Kali ini mari kita lupakan sejenak pelajaran agama yang mungkin sudah kita pelajari sejak kecil. Kita tahu, kita sebagai orang Indonesia yang wajib mempunyai agama, setidaknya di KTP. Nah sekali lagi, kita lupakan dulu sejenak menganai pelajaran agama. Kita coba berfikir dari awal dengan pengetahuan umum (non Agama) yang sudah kita miliki.

Saya mungkin bisa dibilang belum pernah baca buku filsafat, oleh karenanya yang saya jabarkan di bawah ini adalah sebatas kemampuan berfikir saya (yang selama kurang lebih 15 tahun ini berkutat di bidang engineering).

Apa sih definisi kata “ada”? kalau dari kamus besar bahasa Indonesia “ada” berarti hadir atau telah tersedia. Okelah secara kata/harfiah memang begitu. Lalu bagaimana cara mendefinisikan sesuatu itu ada atau tidak? Berdasarkan pengalaman saya selama ini, kita bisa menentukan adanya sesuatu itu setidaknya dengan tiga cara. Sehingga definisi “ADA”  bisa saya rangkum menjadi tiga jenis

Pertama, sesuatu itu ada jika bisa kita rasakan dengan indera kita.

Contoh 1 : kalau kita berada dalam ruangan melihat gelas di atas meja, maka kita bisa tahu bahwa di dalam ruangan itu ADA meja dan gelas. Tidak hanya dengan pengelihatan, kita juga bisa gunakan indera lainnya seperti pendengaran, sentuhan, penciuman, dan indera lainnya.

Contoh 2: Kita berada dalam ruangan seperti contoh 1 namun ruangan tersebut gelap gulita sehingga kita tidak bisa melihat. Apakah kita bisa tahu keberadaan meja dan gelas tersebut? Jawabanya bisa iya bisa tidak. Kalau kita berjalan ke arah acak di dalam ruangan tesebut maka ada kemungkinan kita akan menabrak meja tersebut. Pada saat kita menabrak meja tersbut kita mungkin belum tahu bahwa yang kita tabrak adalah meja. Tapi kita sudah tahu bahwa ADA suatu benda yang kita tabrak.

Contoh 3: Kita mendengar suara percakapan di ruang gelap tesebut. Satu hal yang bisa kita simpulkan adalah ADA suara. Yang bisa kita simpulkan adalah adanya suara dalam ruangan tersebut. Tapi, kita tidak bisa simpulkan apakah itu suara orang dalam ruangan tersebut atau bukan. Bisa saja suara tersebut adalah suara dari sound system. Tapi, jika kita telusuri lebih jauh maka bisa kita simpulkan bahwa ada orang yang melakukan percakapan baik langsung atau tidak langsung (rekaman).

Kedua, sesuatu itu ada jika kita bisa rasakan dengan indera kita dengan alat bantu

Indera kita terbatas kemampuannya. Telinga kita hanya mampu mendengar di frekuensi 20 – 20000 Hz saja. Mata kita hanya sensitif di cahaya tampak saja. Begitu pula dengan indera-indera kita lainnya. Oleh karena itu sering kali kita menggunakan teknologi untuk dapat menentukan keberadaan sesuatu.

Contoh: Untuk mendeteksi keberadaan orang di ruangan gelap maka bisa digunakan kamera inframerah. Kamera inframerah adalah kamera yang dapat memvisualisasikan benda-benda yang memancarkan radiasi di spektrum gelombang infra merah berdaarkan suhunya. Dengan cara ini kita bisa melihat keber”ADA”an seseorang di ruang yang gelap.

Ketiga, susuatu itu ada jika tidak mungkin tidak ada

Ini definisi yang agak membingungkan. Oleh karenanya kita harus gunakan akal dan pengetahuan kita lebih banyak untuk definisi ini dibandingkan dengan dua definisi yang sudah saya jelaskan sebelumnya.

Mari kita bahas “mungkin” dan “tidak mungkin” terlebih dahhulu. Jika ada pertanyaan seperti ini “Apakah mungkin manusia bisa terbang?” Jawabannya ya mungkin saja, kita tinggal naik pesawat terbang sebagai alat bantu dan kita ikut terbang. Tapi gimana kalau pertanyaannya adalah “Apakah mungkin manusia bisa terbang tanpa alat bantu?” Jika saya ditanya pertanyaan ini maka saya jawab tidak mungkin. Kenapa tidak mungkin, karena tubuh kita tidak memungkinkan untuk terbang. Misal kita ikuti gerakan burung dengan mengepakkan tangan kita sekuat mungkin, maka maka gaya angkat yang dihasikan kepakan tangan kita lebih kecil dibandingkan gaya berat tubuh kita. Disini saya punya alasan sehingga saya bisa menyimpulkan ketidak-mungkinan ini.

Sekarang kita ambil contoh mengenai MONAS yang diatasnya terdapat emas. Pertanyaan saya adalah: “Apakah ada meletakkan emas di atas monas?” Jika saya jawab pertanyaan ini, jawaban saya pasti “ada”. Kenapa ada, karena tidak mungkin tidak ada yang meletakkan emas di atas monas. Jika tidak ada yang meletakkan emas di atas monas, bagaiamana ada emas disitu? mengangkat emas seberat itu dibutuhkan gaya yang tidak kecil. Untuk menaruh emas setinggi itu diperlukan energi yang sangat besar. Untuk meletakkan emas tersebut harus sangat presisi, jika tidak maka akan miring, dan seterusnya. Maka saya simpulkan bahwa ada yang menaruh emas disitu. Jika ada orang lain yang bilang bahwa tidak ada yang meletakkan emas di atas monas maka saya bisa saja percaya orang itu tapi harus dengan penjelasan yang membuat itu menjadi mungkin.

Dibandingkan dengan makhluk hidup lain, kita punya intelegensia yang dapat digunakan untuk berfikir. Fikiran inilah yang kita gunakan untuk menentukan kemungkinan dan ketidakmungkinan tersebut. Maksud dari contoh diatas adalah kita bisa menentukan ada atau tidak ada dengan metode tersebut. Kita bisa gunakan akal sehat kita untuk menentukan mungkin atau tidak mungkin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar