By: Panjul
Intermezzo:
Saat
ini saya tinggal di negara yang mungkin bisa dibilang mayoritas penduduknya
adalah ateis. Saya pernah bertanya kepada salah seorang kolega saya tentang hal
ini. Kurang lebih alasan beliau ateis adalah karena beliau tidak mempunyai
alasan untuk beragama. Di lain waktu, teman saya (orang yang berbeda dari kasus
sebelumnya) sedang ada pekerjaan yang agak sulit karena hasilnya selalu tidak
seperti yang diharapkan. Saat itu dia berkata kurang lebih intinya seperti ini
“I pray so the result will be good”. Ketika saya mendengar hal tersebut saya
bilang: “Who do you pray to? Don’t you believe in god?” kemudian dia meralat
menjadi “I wish the result will be good”.
Disclaimer:
percakapan yang saya tulis diatas mungkin tidak tepat seperti percakapan sebenarnya
namun intinya sama.
Mengapa
orang menjadi ateis?
Saya
pernah coba searching di salah satu plaform website tanya jawab online yang
mana ada pertnyaan serupa, yaitu “mengapa Anda menjadi ateis?”
Berabagai macam alasan disebutkan dalam jawaban pertanayaan tersebut. Dibawah ini adalah ringkasan dari jawaban jawaban tersebut:
- Karena ketuhanan tidak masuk akal
- Merasa doa saya jarang terkabul,
- Pengalaman hidupnya yang mempertanyakan kepada agama namun tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Dari
tiga alasan diatas, mungkin alasan nomor 3 tiga yang paling banyak menjadi
penyebab beralihnya orang yang beragama menjadi ateis. Entah kenapa akhir2 ini
topik ini terus melintas di pikiran saya, sehingga saya ingin mencoba
memikirkan lebih dalam dari dasar pemikirannya.
“Ateis”
atau dalam bahasa inggris “Atheist’ dedifiniskan sebagai orang yang tidak
mempercayai bahwa Tuhan itu ada. Dari definisi ini, saya akan ambil kata kunci
yang saya anggap paling penting yaitu “ADA (EXIST)”. Kenapa saya anggap ini
yang paling penting? Karena kata inilah yang memberdakan antara ateis dan teis.
Kali
ini mari kita lupakan sejenak pelajaran agama yang mungkin sudah kita pelajari
sejak kecil. Kita tahu, kita sebagai orang Indonesia yang wajib mempunyai
agama, setidaknya di KTP. Nah sekali lagi, kita lupakan dulu sejenak menganai
pelajaran agama. Kita coba berfikir dari awal dengan pengetahuan umum (non
Agama) yang sudah kita miliki.
Saya
mungkin bisa dibilang belum pernah baca buku filsafat, oleh karenanya yang saya
jabarkan di bawah ini adalah sebatas kemampuan berfikir saya (yang selama
kurang lebih 15 tahun ini berkutat di bidang engineering).
Apa
sih definisi kata “ada”? kalau dari kamus besar bahasa Indonesia “ada” berarti
hadir atau telah tersedia. Okelah secara kata/harfiah memang begitu. Lalu
bagaimana cara mendefinisikan sesuatu itu ada atau tidak? Berdasarkan
pengalaman saya selama ini, kita bisa menentukan adanya sesuatu itu setidaknya
dengan tiga cara. Sehingga definisi “ADA”
bisa saya rangkum menjadi tiga jenis
Pertama, sesuatu itu ada jika bisa kita
rasakan dengan indera kita.
Contoh
1 : kalau kita berada dalam ruangan melihat gelas di atas meja, maka kita bisa
tahu bahwa di dalam ruangan itu ADA meja dan gelas. Tidak hanya dengan
pengelihatan, kita juga bisa gunakan indera lainnya seperti pendengaran,
sentuhan, penciuman, dan indera lainnya.
Contoh
2: Kita berada dalam ruangan seperti contoh 1 namun ruangan tersebut gelap
gulita sehingga kita tidak bisa melihat. Apakah kita bisa tahu keberadaan meja
dan gelas tersebut? Jawabanya bisa iya bisa tidak. Kalau kita berjalan ke arah
acak di dalam ruangan tesebut maka ada kemungkinan kita akan menabrak meja
tersebut. Pada saat kita menabrak meja tersbut kita mungkin belum tahu bahwa
yang kita tabrak adalah meja. Tapi kita sudah tahu bahwa ADA suatu benda yang
kita tabrak.
Contoh
3: Kita mendengar suara percakapan di ruang gelap tesebut. Satu hal yang bisa
kita simpulkan adalah ADA suara. Yang bisa kita simpulkan adalah adanya suara
dalam ruangan tersebut. Tapi, kita tidak bisa simpulkan apakah itu suara orang dalam
ruangan tersebut atau bukan. Bisa saja suara tersebut adalah suara dari sound
system. Tapi, jika kita telusuri lebih jauh maka bisa kita simpulkan bahwa ada
orang yang melakukan percakapan baik langsung atau tidak langsung (rekaman).
Kedua, sesuatu itu ada jika kita bisa
rasakan dengan indera kita dengan alat bantu
Indera
kita terbatas kemampuannya. Telinga kita hanya mampu mendengar di frekuensi 20 –
20000 Hz saja. Mata kita hanya sensitif di cahaya tampak saja. Begitu pula
dengan indera-indera kita lainnya. Oleh karena itu sering kali kita menggunakan
teknologi untuk dapat menentukan keberadaan sesuatu.
Contoh:
Untuk mendeteksi keberadaan orang di ruangan gelap maka bisa digunakan kamera
inframerah. Kamera inframerah adalah kamera yang dapat memvisualisasikan
benda-benda yang memancarkan radiasi di spektrum gelombang infra merah berdaarkan
suhunya. Dengan cara ini kita bisa melihat keber”ADA”an seseorang di ruang yang
gelap.
Ketiga, susuatu itu ada jika tidak mungkin
tidak ada
Ini
definisi yang agak membingungkan. Oleh karenanya kita harus gunakan akal dan pengetahuan
kita lebih banyak untuk definisi ini dibandingkan dengan dua definisi yang sudah
saya jelaskan sebelumnya.
Mari
kita bahas “mungkin” dan “tidak mungkin” terlebih dahhulu. Jika ada pertanyaan
seperti ini “Apakah mungkin manusia bisa terbang?” Jawabannya ya mungkin saja,
kita tinggal naik pesawat terbang sebagai alat bantu dan kita ikut terbang.
Tapi gimana kalau pertanyaannya adalah “Apakah mungkin manusia bisa terbang
tanpa alat bantu?” Jika saya ditanya pertanyaan ini maka saya jawab tidak
mungkin. Kenapa tidak mungkin, karena tubuh kita tidak memungkinkan untuk
terbang. Misal kita ikuti gerakan burung dengan mengepakkan tangan kita sekuat
mungkin, maka maka gaya angkat yang dihasikan kepakan tangan kita lebih kecil
dibandingkan gaya berat tubuh kita. Disini saya punya alasan sehingga saya bisa
menyimpulkan ketidak-mungkinan ini.
Sekarang
kita ambil contoh mengenai MONAS yang diatasnya terdapat emas. Pertanyaan saya
adalah: “Apakah ada meletakkan emas di atas monas?” Jika saya jawab pertanyaan
ini, jawaban saya pasti “ada”. Kenapa ada, karena tidak mungkin tidak ada yang meletakkan
emas di atas monas. Jika tidak ada yang meletakkan emas di atas monas,
bagaiamana ada emas disitu? mengangkat emas seberat itu dibutuhkan gaya yang
tidak kecil. Untuk menaruh emas setinggi itu diperlukan energi yang sangat besar.
Untuk meletakkan emas tersebut harus sangat presisi, jika tidak maka akan
miring, dan seterusnya. Maka saya simpulkan bahwa ada yang menaruh emas disitu.
Jika ada orang lain yang bilang bahwa tidak ada yang meletakkan emas di atas
monas maka saya bisa saja percaya orang itu tapi harus dengan penjelasan yang
membuat itu menjadi mungkin.
Dibandingkan
dengan makhluk hidup lain, kita punya intelegensia yang dapat digunakan untuk
berfikir. Fikiran inilah yang kita gunakan untuk menentukan kemungkinan dan ketidakmungkinan
tersebut. Maksud dari contoh diatas adalah kita bisa menentukan ada atau tidak
ada dengan metode tersebut. Kita bisa gunakan akal sehat kita untuk menentukan
mungkin atau tidak mungkin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar