Oleh: Panjul
Kesimpulan yang bisa diambil dari pembahasan sebelumnya (“Apakah
tuhan itu ada?”) adalah bahwa tidak mungkin jika Tuhan itu tidak ada. Dengan kata
lain, Tuhan itu pasti ada. Bahkan, jika teori evolusi itu benar, maka tetap
tidak mungkin jika tidak ada Tuhan. Artinya tidak ada hubungan antara orang
yang percaya bahwa teori evolusi itu benar dengan keateisan. Menurut pendapat
saya, keateisan terjadi karena menolak berfikir secara logis atau sebaliknya
mereka berfikir tapi tidak pada hal yang fundamental.
Di tulisan sebelumnya kita hanya membahas bahwa Tuhan adalah
sang pencipta yang tidak diciptakan. Oleh karenanya, kali ini kita coba
berfikir dengan logika secara pelan-pelan untuk mengenali sifat-sifat Tuhan
berdasarkan akal yang kita miliki. Kenapa dengan akal? Karena semua manusia
punya akal. Pasti Tuhan memberikan kelebihan ini kepada manusia untuk berfikir.
Seperti sebelumnya, kita lupakan dulu pelajaran agama yang kita pernah dapatkan
agar kita bisa berfikir seobjektif mungkin.
Tuhan berhak disembah salah satunya karena dia yang
menciptakan alam semesta ini, termasuk kita di dalamnya. Namun mungkin kita
bertanya-tanya siapa Tuhan yang harus kita sembah itu? Apakah dia memerintahkan
untuk disembah? Jika iya siapa Tuhan itu? Nah di sini kita coba berfikir dengan
akal bahwa Tuhan haruslah mempunyai sifat-sifat yang tidak boleh tidak ada
padaNya.
1.
Tuhan hanya satu, tidak ada saingan, tidak ada
yang sama denganNya
Tuhan tidak boleh
lebih dari satu. Kenapa? Karena dia pencipta yang paling awal alam semesta ini (ruang
dan waktu). Karena Dia menciptakan waktu oleh karena itu sebelum waktu sendiri itu ada, maka Dia sudah
ada. Segala sesuatu yang “paling” (the most), pasti hanya satu. Coba bayangkan,
misalnya Tuhan ada dua atau lebih, maka akan jadi pertanyaan: siapa yang lebih
dahulu ada? kok bisa ada lebih dari satu? Siapa yang lebih kuat? Siapa yang
lebih berkuasa? Dst. Pertanyaan-pertanyaan seperti tidak bisa diarahkan ke
Tuhan, jika Tuhan hanya ada satu, yaitu yang paling (maha) awal, maha pencipta,
maha kuat, dst. Dengan kata lain Tuhan juga memiliki sifat tidak ada saingan
atau tidak ada yang setara denganNya.
2. Rupa
Tuhan tidak bisa dibayangkan atau digambarkan
Secara sadar atau tidak, sebenarnya kita ini terpenjara di
dalam ruang dan waktu. Ruang yang kita tempati saja terbatas di dimensi ruang (terabats
di 3 Dimensi) dan waktu. Waktu juga terbatas hanya bisa maju, tidak bisa mundur
(setidaknya hingga sampai saat ini belum ada mesin waktu). Kita bisa
membayangkan sesuatu yang dimensinya lebih rendah dari kita, contoh lukisan (2
dimensi). Tapi bagaimana untuk hal yang lebih dari dimensi 3? Bisakah kita
membayangkan sesuatu benda dari dimensi 5?
Tuhan yang menciptakan dimensi ruang dan waktu, artinya Dia
terbebas dari semua dimensi yang dia ciptakan. Oleh karenanya tidak mungkin
kita bisa membayangkan rupa Tuhan, apalagi menggambarnya atau membuat patung. Rupa
Tuhan pasti berbeda dari apa yang kita fikirkan atau bayangkan.
Dengan dua sifat Tuhan yang dibahas di atas maka akan lebih
mudah bagi kita untuk mencari tahu siapa Tuhan yang sebenarnya. Kok begitu?
Oke mari kita lanjutkan. Di bagian ini mari kita mulai
mengingat pelajaran agama. Pertanyaannya sekarang, apakah Tuhan berkomunikasi
dengan makhluknya? Dengan siapa? Bagaimana caranya?
Sekali lagi, Tuhan memberi kita akal. Oleh karenanya, jika
Tuhan ingin berkomunikasi dengan makhluknya untuk mengenalkan diriNya, pastilah
dengan konsep yang diterima dengan akal. Jika tidak bisa diterima dengan akal
maka komunikasi itu rusak atau tidak ada gunanya.
Ada banyak agama di dunia ini dengan konsep ketuhanan yang
berbeda-beda. Agama-agama tersebut dimulai dari seseorang dan menyebar. Ada
yang mengaku orang tersebut adalah Tuhannya atau ada yang membuat konsep bahwa
sesuatu (api, matahari, dan lain-lain) sebagai Tuhannya. Selain itu, adapula
agama yang dimulai dari seorang yang mengaku berkomunikasi dengan Tuhan untuk
diajarkan ke manusia lainnya. Saat ini, dapat dibilang agama mayoritas di bumi
adalah agama dengan jenis ini. Masalahnya agama jenis ini tidak hanya satu
sehingga kita harus berfikir dengan matang untuk memilih salah satu dari agama
tersebut. Memilih agama sebaiknya tidak dengan perasaan, karena perasaan mudah
sekali berubah sehingga akan menjadi sangat subjektif. Oleh karena itu akal
harus digunakan dalam hal ini sehingga lebih objektif. Konsep ketuhanan harus
bisa diterima akal sehat, kenapa? Karena kita diberikan akal oleh Tuhan untuk
mengerti. Konsep ketuhanan adalah konsep yang paling fundamental sehinga semua
orang yang ingin menggunakan akalnya bisa menerimanya. Saya ingin menjadi orang
yang beragama karena akal saya, bukan hanya karena keturunan, paksaan, ataupun
perasaan. Banyak orang yang mengaku pernah mengalami perjalanan spiritual
kemudian menjadi percaya kepada suatu agama tertentu. Lalu orang tersebut
menceritakan kisah spiritualnya ke orang lain sehingga orang lain mengikuti
ajaran agama tersebut. Bagi orang lain mungkin ini bisa diterima sebagai alasan
untuk menmpercayai agama tertentu. Tapi, bagi saya ini sangatlah subjektif
sehingga saya tidak mau mempercayai suatu agama karena alasan ini. Jika agama karena
keturunan saya sejalan dengan pemikiran saya, itu suatu anugerah bagi saya.
Jika tidak, mungkin saya harus menjelaskan ini ke orang-orang sekitar saya.
Oke, kita lanjutkan. Di bagian ini mungkin agak sensitif, oleh karena itu saya ingin mengatakan bahwa: saya
sangat menghormati jika ada orang lain yang memiliki cara berfikir atau
keyakinan yang lain. Tulisan ini hanyalah pendapat saya mengenai cara berfikir
saya mengenai Tuhan dan memilih agama sehingga saya beragama bukan karena tanpa
alasan yang logis. Seandainya ada pembaca yang tidak dapat menerima perbedaan
pendapat, silakan skip bagian dibawah ini. Saya juga akan gunakan kata “saya” saat
menjabarkan pemikiran saya
Saya sudah punya dua syarat Tuhan yang tidak boleh tidak
dimiliki oleh Tuhan. Dengan cara ini saya dapat mengeliminasi agama-agama yang menurut pendapat saya tidak benar
karena tidak memiliki persyaratan tersebut. Saya tidak ingin menyebutkan agama2
yang tereliminasi tersebut. Mungkin saya akan bahas di tulisan saya yang lain
mengenai ini.
Untuk memahami konsep ketuhanan dari suatu agama, yang bisa kita lakukan ada dua: baca kitab sucinya dan bertanya pada pemuka agamanya. Merujuk ke kitab sucinya adalah yang paling tepat karena tidak akan berubah. Sedangkan pemuka agama juga manusia yang terbatas ilmunya dan ia pun harus merujuk ke kitab sucinya. Namun, kita bisa bertanya ke pemuka agama jika tidak mengerti isi dari kitab suci. Dari semua agama yang saya tahu, hanya Islam yang memiliki konsep persis dengan dua persyaratan tersebut di atas. Dan pernyataan ini dalam kitab sucinya pun jelas tanpa ada ambiguitas. Contoh pernyataan tersebut adalah surat 112: ayat 1 -4. Di sini saya coba tuliskan artinya:
- Katakanlah, Dialah Allah yang maha esa
- Allah tempat meminta segala sesuatu
- Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan
- Tidak ada yang setara dengan Dia
Ayat 1 dan ayat 4 sangat persis dengan syarat pertama yang
dibahas di atas. Apakah ada agama lain yang memiliki konsep seperti ini? Seandainya
ada agama lain dengan konsep ketuhanan yang sama, maka perlu perbandingan lebih
jauh dan mendalam.
Sebenarnya persyaratan nomor satu itu dapat diistilahkan dengan dengan monoteisme. Pancasila dalam sila pertama juga menyatakan “Ketuhanan yang maha esa”. Di Indonesia memiliki 6 agama yang diakui, yaitu: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghuchu. Kenapa saya nyatakan bahwa “dari semua agama yang saya ketahui, hanya Islam yang memiliki konsep murni monotheisme?” Pertama saya tidak tahu dengan pasti konsep ketuhanan selain Islam, Kristen, dan Katolik. Sedandainya ada yang mau memberikan penjelasan tentang agama-agama ini saya akan sangat berterima kasih. Sedangkan Kristen dan Katolik memiliki konsep trinitias atau tritunggal. Namun, akal saya tidak bisa mengerti konsep trinitas ini. Biasanya diskusi trinitas akan berakhir pada jawaban seperti "trinitas itu misteri" atau "hanya tuhan yang tahu" atau dengan kata lain akal kita tidak bisa mengerti konsep ini, jadi yang bisa dilakukan adalah percaya saja tanpa harus berfikir. Saya tidak mau memilih agama dengan cara seperti ini, kenapa? bagi saya konsep ketuhanan harus bisa dimengerti secara akal karena Tuhan sudah memberikan akal kepada kita. Berbeda dengan sains yang terus berkembang yang mungkin saat ini belum bisa dijelaskan tapi suatu saat dapat dijelaskan, konsep ketuhanan harus bisa diterima secara universal sejak manusia pertama di dunia ini.
Mungkin, saya akan tulis khusus pemikiran saya mengenai trinitas dalam
tulisan yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar