Kamis, 20 Mei 2021

Mengapa Yesus tidak mengakui dirinya sebagai Tuhan di dalam Kitab Injil?

 By: panjul

Saya akan coba jawab seobjektif mungkin, tapi saya pake anonim karena kuatir jadi debat kusir yang keluar dari topik pertanyaan dan mengingat tidak semua Quoran berfikiran terbuka. Intinya saya hanya share apa yang saya sudah pelajari. Benar atau salah diserahkan kepada pembaca masing-masing.

Mengapa Yesus tidak mengakui dirinya sebagai Tuhan di dalam Kitab Injil?

Jawaban yang pasti saat ini adalah tidak ada yang tahu karena pengarang injil (keempat kitab injil) sudah meninggal semua sehingga kita tidak bisa menanyakan langsung kepada mereka. Mungkin ini akan terjawab jika ditemukan mansukrip injil kuno lain yang menerangkan status Yesus sebenarnya.

Nah kalau jawaban yang tidak pasti ada dua pilihan: 1. Yesus mengakui, tapi ayat tersebut bersifat kiasan. 2. Yesus memang bukan Tuhan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa semua ayat yang dijadikan argumen bahwa “Yesus adalah Tuhan” bersifat ambigu (maknanya lebih bisa lebih dari satu) atau kiasan. Kalau memang anggapan “Yesus adalah Tuhan” itu mutlak benar di injil, maka tidak ada yang namanya aliran Unitarianisme (contoh Arianisme, saksi Yehova). Logikanya, aliran ini juga menggunakan injil yang sama, tapi konsep yang paling fundamental ini bisa berbeda. Artinya, ada perbedaan penafsiran atau penakwilan injil. Ini berarti ayat-ayat tersebut memiliki makna lebih dari satu atau kiasan.

Mungkin satu-satunya ayat yang secara eksplisit menyetujui bahwa “Yesus adalah Tuhan” adalah Yohanes 13:13.

“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.”

Namun, kata “Tuhan” disini juga bersifat ambigu karena asalnya dari kata “Lord” atau “Kyrios”. Kata ini bisa diterjemahkan sebagai “Tuhan”, “Tuan”, atau “Junjungan”. Dalam beberapa versi, ayat ini diterjemahkan menggunakan kata “junjungan” atau “Tuan”. Karena saya bukan kristolog,atau teolog, maka saya tidak ingin membahas ini lebih jauh. Biarkan mereka para ahli yang berbicara, tinggal googling aja video “perdebatan unitariaisme dan Trinitarian” atau sejenisnya. Zaman sekarang gampang cari informasi, yang susah adalah cari mana yang valid. Kenapa saya sarankan dari video debat? Karena dalam debat, adu argumennya terlihat sekali, sehingga sudah ototmatis informasi yang dibutuhkan keluarkan. Nah, kita tinggal cek apa yang narasumber katakan itu valid apa tidak. Kalau perlu cek juga debat Yesus dalam pandangan Kristen dan Islam. Loh, kenapa Islam? Karena pandangan Yesus dalam Unitarian hampir sama dengan pandangan Yesus dalam Islam. Menurut pendapat saya, jika seorang Unitarian percaya bahwa Muhammad adalah utusan Allah maka secara esensi dia sudah islam.

Intinya, ada ayat-ayat yang dijadikan argumen bahwa Yesus adalah Tuhan, tapi banyak juga ayat yang secara tegas menunjukkan bahwa Yesus adalah utusan Allah (nabi) dengan segala keterbatasannya. Masing-masing pihak memiliki argumennya. Namun setiap pihak juga punya konsekuensi terhadap anggapannya (Yesus Tuhan atau bukan Tuhan).

Bagi pihak yang menyatakan Yesus adalah Tuhan maka mereka harus bisa menjelaskan bagaimana ayat-ayat yang mengindikasikan bahwa Yesus bukan Tuhan (lebih tepatnya hanya seorang Nabi), contohnya Yesus mengaku nabi, Yesus berdoa kepada Allah, Yesus tidak tahu kapan hari kiamat, Yesus mati, dan lain-lain. Bagaimana Tuhan bisa seperti ini? Untuk menjawab ini, pihak Kristen arus utama mengarang/membuat/mengkonsepkan Trinitas. Beberapa sumber juga menggunakan istilah “incognito project”. Sehingga pada saat dihadapkan dengan kenyataan ayat yang menunjukkan Yesus adalah manusa biasa, bisa dijawa dengan berdalih bahwa Yesus kan 100% manusia dan 100% Tuhan. Yup, hal ini seperti memberikan standar ganda (tidak konsisten) untuk membenarkan konsep bahwa Yesus adalah Tuhan. Lebih-lebih lagi, konsep “incognito project” dan trinitas tidak ada di dalam injil. Jika ditanya mana bukti konsep itu benar, maka jawabannya balik ke ayat-ayat ambigu tersebut. Artinya konsep trnitias and “incognito project” adalah penafsiran juga. Inilah kelemahan konsep Trinitas yang membuat tidak sedikit orang Kristen keluar dari agamanya.

Di sisi lain, bagi pihak yang menyatakan Yesus adalah Nabi (Unitarian), mereka juga memiliki argumen argumen yang kuat. Ayat-ayat yang menyatakan bahwa Yesus adalah Nabi (manusia) ada banyak dan dinyatakan secara eksplisit. Tapi, pihak ini juga harus bisa menjelaskan ayat-ayat ambigu yang dijadikan argumen bahwa Yesus itu Tuhan. Misalnya: “Aku dan Bapak adalah satu”. Salah satu penafsirannya adalah, kata “satu” disini memiliki arti kiasan, yaitu bukan pribadinya yang satu tapi satu ajaran (Firman). Sekali lagi saya tidak akan membahas detail mengenai ini karena saya bukan ahlinya. Saya hanya memberikan contoh saja tanpa mempertimbangkan keakuratan.

Debat semacam ini sudah tejadi sejak lama. Kalau kita lihat sejarahnya, perbedaan pandangan trinitas dan unitarianisme sudah terjadi sebelum konsili nikea I. Dengan mempelajari sejarah kita bisa tahu dengan jelas kapan, apa dan dimana. Tetapi kita tidak bisa tahu dengan pasti mengapa dan bagaimana. Nah berdasarkan sejarah, yang jelas kita bisa tahu bahwa status Yesus itu diperdebatkan sejak lama. Kemudian “disepakati” bahwa ajaran yang “lurus” dalam Kristen adalah Trinitas dalam konsili nikea I. Sedangkan pandangan unitarianisme, yang digagas oleh Arius, dianggap Bidah. Arius sendiri belajar Teologi di Antiokia, yang merupakan pusat agama Kristen pada abad pertama masehi. Di antiokia inilah murid-murid Yesus untuk pertama kali disebut Kristen.

Kenapa sekarang jadi masih diperderbatkan?

Jelas karena yang menyepakati dalam konsili nikea I itu juga manusia biasa semua, bukan nabi atau malaikat. Konsili nikea adalah semacam musyawarah/rapat/meeting, maka tidak bisa dihindari adanya maneuver-manuver politik untuk suatu kepentingan pada saat konsili tersebut berlangsung. Coba saja bayangkan jika yang disepakati dalam konsili nikea I adalah paham arianisme (unitrianisme). Bukan tidak mungkin, saat ini yang menjadi mayoritas dalam Kristen adalah Unitarianisme dan Trinitaslah yang dianggap bidah. Bahkan, jika kita pelajari sejarah lebih jauh, maka ada juga doktrin lain semacam Sabellianisme. Intinya sejak zaman dahulu penjelasan injil mengenai Yesus itu diperdebatkan sehingga banyak penafsiran. Ini fakta yang memang tidak bisa dibantah. Oleh karena itu, tidak sedikit para biblical scholar yang mempertanyakan keakuratan injil mengingat injil juga dikarang oleh manusia. Inilah yang dilakukan oleh Robert Funk yang menggagas Jesus Seminar. Silakan googling sendiri saja lah apa yang mereka temukan dari hasil studi mereka.

Lalu mana yang benar? Karena saya sudah bilang diawal ingin seobjektif mungkin, maka jawaban panjang saya ini bukan untuk menenyimpulkan mana yang benar dan salah. Benar dan salah diserahkan kepada para pembaca masing-masing. Yang ingin saya share disini adalah supaya kita tetap terus belajar dari berbagai pandangan dan tidak terkurung oleh komunitas yang itu-itu saja. Kita perlu kritisi agama untuk mendapatkan jawaban apakah agama ini benar. Kita perlu bandingkan agama yang satu dengan yang lainnya untuk mendapatkan jawaban agama mana yang harus kita pilih. Waktu hidup kita di dunia terbatas.

Jika anda beragama (apapun agama itu), jangan telan mentah-mentah apa yang dikatakan oleh pemuka agama anda. Pastur, Pendeta, Kyiai, Ulama, Biksu, dll semuanya hanyalah manusia biasa yang pasti punya kesalahan. Rujukan orang yang beragama adalah kitab sucinya, bukan tokoh agamanya dan bukan kelakuan para pemeluknya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar