Kamis, 20 Mei 2021

Mengapa Yesus tidak mengakui dirinya sebagai Tuhan di dalam Kitab Injil?

 By: panjul

Saya akan coba jawab seobjektif mungkin, tapi saya pake anonim karena kuatir jadi debat kusir yang keluar dari topik pertanyaan dan mengingat tidak semua Quoran berfikiran terbuka. Intinya saya hanya share apa yang saya sudah pelajari. Benar atau salah diserahkan kepada pembaca masing-masing.

Mengapa Yesus tidak mengakui dirinya sebagai Tuhan di dalam Kitab Injil?

Jawaban yang pasti saat ini adalah tidak ada yang tahu karena pengarang injil (keempat kitab injil) sudah meninggal semua sehingga kita tidak bisa menanyakan langsung kepada mereka. Mungkin ini akan terjawab jika ditemukan mansukrip injil kuno lain yang menerangkan status Yesus sebenarnya.

Nah kalau jawaban yang tidak pasti ada dua pilihan: 1. Yesus mengakui, tapi ayat tersebut bersifat kiasan. 2. Yesus memang bukan Tuhan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa semua ayat yang dijadikan argumen bahwa “Yesus adalah Tuhan” bersifat ambigu (maknanya lebih bisa lebih dari satu) atau kiasan. Kalau memang anggapan “Yesus adalah Tuhan” itu mutlak benar di injil, maka tidak ada yang namanya aliran Unitarianisme (contoh Arianisme, saksi Yehova). Logikanya, aliran ini juga menggunakan injil yang sama, tapi konsep yang paling fundamental ini bisa berbeda. Artinya, ada perbedaan penafsiran atau penakwilan injil. Ini berarti ayat-ayat tersebut memiliki makna lebih dari satu atau kiasan.

Mungkin satu-satunya ayat yang secara eksplisit menyetujui bahwa “Yesus adalah Tuhan” adalah Yohanes 13:13.

“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.”

Namun, kata “Tuhan” disini juga bersifat ambigu karena asalnya dari kata “Lord” atau “Kyrios”. Kata ini bisa diterjemahkan sebagai “Tuhan”, “Tuan”, atau “Junjungan”. Dalam beberapa versi, ayat ini diterjemahkan menggunakan kata “junjungan” atau “Tuan”. Karena saya bukan kristolog,atau teolog, maka saya tidak ingin membahas ini lebih jauh. Biarkan mereka para ahli yang berbicara, tinggal googling aja video “perdebatan unitariaisme dan Trinitarian” atau sejenisnya. Zaman sekarang gampang cari informasi, yang susah adalah cari mana yang valid. Kenapa saya sarankan dari video debat? Karena dalam debat, adu argumennya terlihat sekali, sehingga sudah ototmatis informasi yang dibutuhkan keluarkan. Nah, kita tinggal cek apa yang narasumber katakan itu valid apa tidak. Kalau perlu cek juga debat Yesus dalam pandangan Kristen dan Islam. Loh, kenapa Islam? Karena pandangan Yesus dalam Unitarian hampir sama dengan pandangan Yesus dalam Islam. Menurut pendapat saya, jika seorang Unitarian percaya bahwa Muhammad adalah utusan Allah maka secara esensi dia sudah islam.

Intinya, ada ayat-ayat yang dijadikan argumen bahwa Yesus adalah Tuhan, tapi banyak juga ayat yang secara tegas menunjukkan bahwa Yesus adalah utusan Allah (nabi) dengan segala keterbatasannya. Masing-masing pihak memiliki argumennya. Namun setiap pihak juga punya konsekuensi terhadap anggapannya (Yesus Tuhan atau bukan Tuhan).

Bagi pihak yang menyatakan Yesus adalah Tuhan maka mereka harus bisa menjelaskan bagaimana ayat-ayat yang mengindikasikan bahwa Yesus bukan Tuhan (lebih tepatnya hanya seorang Nabi), contohnya Yesus mengaku nabi, Yesus berdoa kepada Allah, Yesus tidak tahu kapan hari kiamat, Yesus mati, dan lain-lain. Bagaimana Tuhan bisa seperti ini? Untuk menjawab ini, pihak Kristen arus utama mengarang/membuat/mengkonsepkan Trinitas. Beberapa sumber juga menggunakan istilah “incognito project”. Sehingga pada saat dihadapkan dengan kenyataan ayat yang menunjukkan Yesus adalah manusa biasa, bisa dijawa dengan berdalih bahwa Yesus kan 100% manusia dan 100% Tuhan. Yup, hal ini seperti memberikan standar ganda (tidak konsisten) untuk membenarkan konsep bahwa Yesus adalah Tuhan. Lebih-lebih lagi, konsep “incognito project” dan trinitas tidak ada di dalam injil. Jika ditanya mana bukti konsep itu benar, maka jawabannya balik ke ayat-ayat ambigu tersebut. Artinya konsep trnitias and “incognito project” adalah penafsiran juga. Inilah kelemahan konsep Trinitas yang membuat tidak sedikit orang Kristen keluar dari agamanya.

Di sisi lain, bagi pihak yang menyatakan Yesus adalah Nabi (Unitarian), mereka juga memiliki argumen argumen yang kuat. Ayat-ayat yang menyatakan bahwa Yesus adalah Nabi (manusia) ada banyak dan dinyatakan secara eksplisit. Tapi, pihak ini juga harus bisa menjelaskan ayat-ayat ambigu yang dijadikan argumen bahwa Yesus itu Tuhan. Misalnya: “Aku dan Bapak adalah satu”. Salah satu penafsirannya adalah, kata “satu” disini memiliki arti kiasan, yaitu bukan pribadinya yang satu tapi satu ajaran (Firman). Sekali lagi saya tidak akan membahas detail mengenai ini karena saya bukan ahlinya. Saya hanya memberikan contoh saja tanpa mempertimbangkan keakuratan.

Debat semacam ini sudah tejadi sejak lama. Kalau kita lihat sejarahnya, perbedaan pandangan trinitas dan unitarianisme sudah terjadi sebelum konsili nikea I. Dengan mempelajari sejarah kita bisa tahu dengan jelas kapan, apa dan dimana. Tetapi kita tidak bisa tahu dengan pasti mengapa dan bagaimana. Nah berdasarkan sejarah, yang jelas kita bisa tahu bahwa status Yesus itu diperdebatkan sejak lama. Kemudian “disepakati” bahwa ajaran yang “lurus” dalam Kristen adalah Trinitas dalam konsili nikea I. Sedangkan pandangan unitarianisme, yang digagas oleh Arius, dianggap Bidah. Arius sendiri belajar Teologi di Antiokia, yang merupakan pusat agama Kristen pada abad pertama masehi. Di antiokia inilah murid-murid Yesus untuk pertama kali disebut Kristen.

Kenapa sekarang jadi masih diperderbatkan?

Jelas karena yang menyepakati dalam konsili nikea I itu juga manusia biasa semua, bukan nabi atau malaikat. Konsili nikea adalah semacam musyawarah/rapat/meeting, maka tidak bisa dihindari adanya maneuver-manuver politik untuk suatu kepentingan pada saat konsili tersebut berlangsung. Coba saja bayangkan jika yang disepakati dalam konsili nikea I adalah paham arianisme (unitrianisme). Bukan tidak mungkin, saat ini yang menjadi mayoritas dalam Kristen adalah Unitarianisme dan Trinitaslah yang dianggap bidah. Bahkan, jika kita pelajari sejarah lebih jauh, maka ada juga doktrin lain semacam Sabellianisme. Intinya sejak zaman dahulu penjelasan injil mengenai Yesus itu diperdebatkan sehingga banyak penafsiran. Ini fakta yang memang tidak bisa dibantah. Oleh karena itu, tidak sedikit para biblical scholar yang mempertanyakan keakuratan injil mengingat injil juga dikarang oleh manusia. Inilah yang dilakukan oleh Robert Funk yang menggagas Jesus Seminar. Silakan googling sendiri saja lah apa yang mereka temukan dari hasil studi mereka.

Lalu mana yang benar? Karena saya sudah bilang diawal ingin seobjektif mungkin, maka jawaban panjang saya ini bukan untuk menenyimpulkan mana yang benar dan salah. Benar dan salah diserahkan kepada para pembaca masing-masing. Yang ingin saya share disini adalah supaya kita tetap terus belajar dari berbagai pandangan dan tidak terkurung oleh komunitas yang itu-itu saja. Kita perlu kritisi agama untuk mendapatkan jawaban apakah agama ini benar. Kita perlu bandingkan agama yang satu dengan yang lainnya untuk mendapatkan jawaban agama mana yang harus kita pilih. Waktu hidup kita di dunia terbatas.

Jika anda beragama (apapun agama itu), jangan telan mentah-mentah apa yang dikatakan oleh pemuka agama anda. Pastur, Pendeta, Kyiai, Ulama, Biksu, dll semuanya hanyalah manusia biasa yang pasti punya kesalahan. Rujukan orang yang beragama adalah kitab sucinya, bukan tokoh agamanya dan bukan kelakuan para pemeluknya.


Senin, 17 Mei 2021

Dari mana Muslim bisa berpendapat bahwa kitab Injil itu sudah diubah?

By panjul

Saya coba jawab sesuai pengetahuan saya saja ya sebagai muslim. Bagi muslim lainnya, Saya mohon koreksinya jika ada yang salah.

Oke kita mulai.

Pertama: salah satu rukun Iman dalam Islam adalah beriman kepada kitab Allah. Kitab disini bukan hanya berarti dalam bentuk tulisan di dalam buku atau lembaran-lembaran. Contohnya Alquran, Alquran sebenarnya bukan dalam bentuk tulisan, tetapi dalam bentuk pengucapan (recite). Maka, jika kita melihat Alquran dalam bentuk buku, itu artinya pengucapan kalimat-kalimat Allah yang dibukukan.

Dalam islam, Alquran merupakan sumber rujukan utama (kitab suci). Oleh karenanya bagi penganutnya kebenaran Alquran adalah mutlak. Ada empat kitab yang oleh umat islam diyakini diturunkan oleh Allah SWT yaitu: Taurat kepada Musa As, Zabur kepada Daud As, Injil kepada Isa As, dan Alquran kepada Muhammad SAW.

Lalu bagaimana muslim berpendapat bahwa kitab injil itu sudah diubah?

Saya akan buat dua alasan: “Alasan Utama” khusus bagi muslim karena dasarnya adalah Alquran dan “Alasan pelengkap” karena dasarnya bukan Alquran. Jika anda tidak tertarik dengan Alquran, silakan lanjut ke alasan pelengkap kecuali anda ingin tahu tentang Alquran.

Alasan Utama (khusus bagi muslim):

Mungkin sudah ada jawaban-jawaban yang hampir sama dengan ini. Yaitu ada dalil-dalil dalam Alquran dibawah ini:

(Ali ‘Imran: 78):

“Sesungguhnya ada segolongan di antara mereka yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu mengira yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: ‘Ini (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah’, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.”

Albaqarah:79

“Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, dengan maksud untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 79)

Seperti yang saya jelaskan di atas bahwa kitab sebelum Alquran adalah Taurat, Zabur dan Injil. Oleh karena itu makna ayat ini bisa dikatakan bahwa ada perubahan, pengnatian, atau penakwilan yang keliru dalam dalam kitab sebelum Alquran (termasuk injil) sehingga Alquran diturunkan untuk membenarkannya.

Dengan adanya argumen-argumen ini, maka muslim berpendapat bahwa Kitab sebelum Alquran telah mengalami perubahan, penggantian, atau penakwilan yang keliru. Lalu dimana yang asli? Jawabannya tidak tahu, karena Alquran tidak pernah menyebutkan dimana injil yang belum diubah. Lagi pula umat islam sudah punya rujukan Alquran, jadi keberadaan injil yang asli tidaklah penting.

Alasan pelengkap (pelengkap bagi muslim, dan alasan utama bagi non-Kristen)

Sebelum membahas lebih jauh mari kita coba definisikan lebih dahulu apa itu injil yang sekarang diyakini oleh umat Kristiani. Injil merupakan bagian dari Alkitab (bible), yaitu empat kitab pertama dalam perjanjian baru: Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, dan Injil Yohanes.

Nah sekarang, pertanyaannya adalah apakah injil-injil ini asli firman Allah?

Pertama, berdasarkan sejarah, keempat kitab injil tersebut ditulis pada tahun sekitar 65 – 110 M. Sedangkan Yesus meninggalkan dunia ini pada tahun 33 M. Artinya, setidaknya ada jeda 32 tahun sejak diangkat Allah (wafat dalam kepercayaan Kristen) sampai injil yang pertama tesebut dituliskan. Dengan fakta ini maka jelas bahwa Yesus tidak pernah memeriksa injil tesebut akurat atau tidak. Ditambah lagi, tidak ada tradisi menghapal atau menulis tiap perkataan Yesus pada saat Yesus di dunia. Misalkan ada orang tersebut, siapa orang itu? Apakah memang benar-benar ditunjuk oleh Yesus untuk mengahapalkan atau menuliskannya? Sampai saat ini tidak ada informasi mengenai hal ini. Ini salah satu indikasi bahwa injil tidak asli firman Allah. Coba saja bayangkan, jika anda menuliskan cerita tentang guru anda yang telah meninggal 32 tahun yang lalu. Jangankan 32 tahun, pelajaran sekolah dalam waktu beberapa tahun setelah lulus saja dengan mudah banyak terlupakan.

Kedua, naskah injil kuno yang masih ada sampai sekarang adalah bebahasa Yunani. Naskah inilah yang menjadi rujukan alkitab sekarang (CMIIW). Di sisi lain, dalam kehidupannya, Yesus berbahasa Aramaik (yang saat ini hampir punah). Artinya dalam naskah injil yang paling kuno pun sudah mengalami penerjemahan. Naskah-naskah injil ini kemudian dikanonkan menjadi bagian dari Alkitab. Alkitab kemudian diterjemahkan lagi ke dalam berbagai macam bahasa. Seperti yang kita ketahui, (terjemahan) Alkitab selalu mengalami revisi. Lalu mana yang terjemahan yang lebih akurat? Tentunya tidak ada pilihan lain, jika ingin mengetahui yang paling akurat adalah dengan merujuk merujuk ke naskah kuno tersebut karena tidak ada orang yang secara turun temurun dari generasi ke generasi untuk mengahafal atau menuliskan perkataan dan perbuatan Yesus selama di dunia. Lalu apakah ada jaminan bahwa dalam naskah kuno injil tersebut tidak ada error dalam penerjemahan perkataan Yesus?

Terjemahan adalah hal yang tidak bisa sembarangan dilakukan, Karena dengan salah pemilihan satu kata saja bisa mengubah makna secara drastis. Hal inilah yang terjadi sekarang. Coba saksikan perdebatan “Yesus itu Tuhan atau bukan”. Carilah video debat yang memang kedua pihak berada dalam satu panggung sehingga fair menilai argumennya. Saya pribadi menilai penjelasan dari pihak yang menyatakan Yesus bukan Tuhan lebih logis padahal argumen mereka adalah ayat-ayat alkitabitu sendiri. Tentu saja penilaian saya bisa jadi bersifat subjektif. Lebih baik anda tonton sendiri, dibawah ini adalah video yang saya fikir cukup fair debatnya.

https://www.youtube.com/watch?v=5Aqw307nXc0

https://www.youtube.com/watch?v=npFoUq7nc8k

Ketiga, injil (4 kitab injil) bukanlah kumpulan firman Allah yang dituliskan oleh keempat keempat penulis injil. Tetapi, sebuah tulisan yang terinspirasi dari kehidupan Yesus sehingga di dalamnya memuat perbuatan dan perkataan Yesus. Tidak dipungkiri, mungkin saja ada firman Allah di dalam injil injil ini, tapi yang pasti injil-injil sudah bercampur dengan ungkapan-ungkapan pemikiran manusia. Lalu bagaiamana kita tahu mana yang benar-benar valid dari Yesus dan bukan?

Hal ini senada dengan apa yang dilakukan oleh kelompok Jesus Seminar. Kelompok ini menilai hanya 18% dari perkataan dan 16% dari perbuatan Yesus dalam injil yang autentik. Jika ingin tahu lebih jauh tentang hal ini search aja: “Jesus seminar” atau “Robert W Funk”

Sebagai kesimpulan saya bisa menuliskan:

1.       Jika injil didefinisikan sebagai firman Allah, jelas injil yang sekarang ada dalam alkitab sudah diubah dan campuran dari pemikiran manusia.

2.       Jika injil didefinisikan sebagai tulisan yang dikarang oleh keempat penginjil, maka injil bisa jadi asli jika injil tersebut salinan (bukan terjemahan) dari naskah injil tesebut.

Mungkin sekian jawaban saya, semoga bermanfaat. Semoga dapat dimengerti perbedaan keyakinan seperti ini dan tetap saling menghormati kepercayaan masing-masing.

Khusus untuk anda yang sedang mencari agama yang benar: teruslah belajar dan ambil keputusan begitu anda melihat kebenaran. Waktu kita di dunia sangat sempit, jika kita mati dalam jalan (agama) yang salah maka kita tidak punya kesempatan kedua.

Jumat, 14 Mei 2021

Dari mana Muslim bisa berpendapat bahwa kitab Injil itu sudah diubah?

 By Panjul

Saya coba jawab sesuai pengetahuan saya saja ya sebagai muslim. Bagi muslim lainnya, Saya mohon koreksinya jika ada yang salah.

Sebelum saya menjawab, saya ingin mengatakan bahwa saya tidak bermaksud untuk menyinggung umat Nasrani. Jawaban saya ini murni karena pandangan saya pribadi sebagai muslim. Jadi jika anda (umat nasrani) tidak setuju, anggaplah sebagai perbedaan. Saya akan berusaha berhati hati untuk menggunakan bahasa yang baik.

Oke kita mulai.

salah satu rukun Iman dalam Islam adalah beriman kepada kitab Allah. 

Ada empat kitab yang oleh umat islam diyakini diturunkan oleh Allah SWT yaitu: Taurat kepada Musa As, Zabur kepada Daud As, Injil kepada Isa As, dan Alquran kepada Muhammad SAW.

Karena fokus pertanyaan ini adalah injil, maka perlu disepakati dulu  apa itu injil. 

Injil merupakan merupakan istilah yang merujuk empat kitab pertama dalam alkitab perjanjian baru. Oleh karena itu, jika kita gunakan definisi injil ini, berarti umat islam tidak meyakini seluruh alkitab adalah dari Allah karena injil hanya bagian dari Alkitab.

Lalu bagaimana muslim berpendapat bahwa kitab injil itu sudah diubah?

Saya buat dua jawaban, yaitu berdasarkan Alquran (alasan utama) dan berdasarkan non Alquran (alasan pelengkap). Jika anda tidak tertarik jawaban pertama, silakan skip saja dan langsung baca jawaban kedua (alasan pelengkap) 

Alasan Utama (khusus bagi muslim):

Kenapa ini adalah alasan utama? Karena Alquran adalah kitab suci umat islam yang digunakan sebagai rujukan utama. Jadi bagi umat islam, kebenaran Alquran adalah mutlak.

Pertama ada dalil-dalil dalam Alquran seperti dibawah ini:

QS 2:97:

"Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: "Ini dari Allah," (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat apa yang mereka kerjakan" (Albaqoroh 79)

Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. ” (QS. Ali Imron: 78)

(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat).” (QS. Al Maidah: 13)

Lalu, dimana injil yang asli? Ini juga tidak disebutkan dalam Alquran. Menurut pendapat saya, sudah tidak terlalu penting dimana injil yang asli karena Allah sudah menurunkan Alquran sebagai petunjuk untuk semua makhluk termasuk bangsa jin. Sedangkan injil hanya ditunjukkan untuk bani israil saja.

Dengan adanya argumen-argumen ini, maka muslim berpendapat bahwa Kitab sebelum Alquran telah mengalami perubahan, penggantian, atau penakwilan yang keliru.

Alasan pelengkap (pelengkap bagi muslim, dan alasan utama bagi non-Kristen)

Adanya penelitian mengenai ayat-ayat dalam Alkitab (injil termasuk di dalamnya).

Penelitian ini bahkan bukan dilakukan oleh muslim, melainkan oleh biblical scholar bernama Robert W. Funk. Beliau adalah pendiri Jesus Seminar yang beranggotakan 50 biblical scholar di California. Kelompok ini menilai hanya 18% dari perkataan dan 16% dari perbuatan Yesus dalam injil yang autentik. Artinya sisanya adalah dipertanyakan. Jika ingin tahu lebih jauh silakan search sendiri dengan kata kunci “Jesus Seminar” atau “Robert Funk”.

Konsep ketuhanan yang sangat berbeda dengan agama Abrahamic lainnya (Yahudi dan Islam)

Dalam Agama Kristen, konsep monoteisme diekspresikan dalam Trinitas. Di sisi lain, Yahudi dan Islam meyakini bahwa keesaan Tuhan adalah mutlak. Setiap Agama pasti merujuk ke kitab sucinya. Begitu pula Kristen merujuk kepada Alkitab (injil di dalamnya). Masalahnya adalah: kesimpulan bahwa Yesus adalah Tuhan berdasarkan Alkitab bukanlah satu-satunya kesimpulan yang bisa didapat. Untuk hal ini, saya biasanya tonton debat yang memang kedua belah pihak ada di acara tersebut sehingga mereka dapat saling berargumen dengan dasarnya masing-masing. Contohnya ini:

https://www.youtube.com/watch?v=5Aqw307nXc0

https://www.youtube.com/watch?v=npFoUq7nc8k

Jika kita tonton debat mengenai ini, maka kita (setidaknya saya) bisa melihat kesimpulan Yesus sebegai nabi (bukan Tuhan) berdasarkan Alkitab lebih masuk akal karena argumennya jelas. Tentu saja pendapat saya ini bisa jadi sangat subjektif. Sebaiknya anda tonton sendiri untuk lebih jelasnya.

Penulisan dan bahasa naskah injil

Silakan pelajari bagaimana penulisan Alkitab. Kalau menurut saya, penulisan alkitab ini mirip dengan penulisan hadits dalam islam. Artinya apa? Ada kesulitan menetukan mana yang harus dimasukkan sebagai injil dan mana yang bukan. Dalam islam, ada yang namanya hadits shahih, lemah, bahkan sampai palsu. Semua level ini memiliki standard berbeda-beda yang dapat di telusuri dengan cara melihat perawinya. Masalahnya tidak semua naskah Alkitab tidak disertai dengan keterangan rantai pentutur hingga orang yang pernah bertermu dengan Yesus (CMIIW). Sedangkan naskah-naskah alkitab ditulis setelah kehidupan Yesus di dunia,  Jadi, tidak ada jaminan bahwa yang tertulis dalam Alkitab itu bersumber dari Yesus. Tentu saja orang Kristen dapat berkata bahwa penulisnya dibimbing oleh Roh Kudus. Tapi argumen ini sangatlah subjektif. Bagaiamana kita tahu penulis tersebut dibimbing Roh Kudus.

Kemudian untuk bahasa. Yesus dalam kesehariannya berbahasa Aram, sedangkan naskah injil kebanyakan adalah bahasa Yunani. Artinya ada naskah tersebut adalah transalasi (terjemahan). Dan dalam penerjemahan tidak bisa dihindari adanya error.

Mungkin ini penjelasan singkat dari saya tentang mengapa muslim berpendapat bahwa injil sudah diubah. Tentu saja jawaban ini dilihat dari sudut pandang saya sebagai muslim dan sisi sujectif tidak bisa saya hilangkan sepenuhnya.

Yang paling penting adalah kita saling mengormati kepercayaan kita masing-masing. Semoga jawaban saya bermanfaat.


Selasa, 27 April 2021

TAUHID vs TRINITAS (part 2)

By panjul

Sekarang kita uji lebih dalam tentang TRINITAS karena pada uji sebelumnya TRINITAS memiliki masalah dengan konsepnya, sedangkan Tauhid tidak ada masalah. Jika ada yang berfikir bahwa Tauhid juga bermasalah, silakan didiskusikan di komentar. Namun perlu diingat, yang kita uji adalah konsepnya bukan dalilnya. Oleh karena itu jangan bawa-bawa dalil dari Quran dan Alkitab untuk berdiskusi di tahap ini. 

Oke mari kita mulai dari inti Trinitas yang ini:

 ‘’’           

Allah Bapa BUKAN Yesus BUKAN Roh Kudus

Yesus BUKAN Allah Bapa BUKAN Roh Kudus

Roh Kudus BUKAN Allah Bapa BUKAN Yesus

Allah Bapa adalah Tuhan, Yesus adalah Tuhan, Roh Kudus adalah Tuhan

 ‘’’

Kalau saya pelajari lebih dalam, keempat kalimat di atas adalah premis. Jadi belum ada kesimpulannya. Dari tiga premis pertama menyatakan bahwa Allah Bapa, Yesus dan Roh Kudus adalah tiga objek yang berbeda. Kalimat keempat menyatakan siapa itu masing-masing dari tiga objek tersebut. Kalau kita mengacu pada keempat kalimat ini, maka kesimpulannya adalah Tuhan ada tiga. Jika belum mengerti mari kita coba analogikan seperti ini:

           Joko BUKAN Acong BUKAN Sitorus

Acong BUKAN Joko BUKAN Sitorus

Sitorus BUKAN Joko BUKAN Acong

Joko adalah polisi, Acong adalah Polisi, Sitorus adalah Polisi

(note: mohon maaf jika ada nama yang sama dengan yang di atas)

Analogi diatas saya buat setara dengan Trinitas. Dengan menggunakan analogi tersebut, mari kita uji dengan peratanyaan serupa:

Pertanyaan satu: Siapa polisi?

Jawaban: Joko adalah polisi, Acong adalah Polisi, Sitorus adalah Polisi

Pertanyaan dua: Ada berapa polisi?

Jawaban: tiga

Dengan penjelasan Trinitas seperti itu, maka kesimpulannya adalah Tuhan ada tiga. Berdasarkan syarat Tuhan dalam tulisan lain, yaitu Tuhan haruslah satu (Esa). Artinya, jika penjelasan trinitas adalah seperti ini, maka Trinitas itu tidak benar karena menganggap Tuhan ada tiga.

 Dalam sumber yang sama (https://gadoga.com/), trinitas juga dijelaskan dengan analogi seperti ini:

‘’’

Contoh #1: Persatuan Indonesia

Indonesia terdiri dari 250 juta pribadi. Lalu Indonesia ada berapa? CUMA SATU.

Tuhan terdiri dari tiga pribadi. Lalu Tuhan ada berapa? ya CUMA SATU

‘’’

Kalau analoginya seperti ini, maka kesimpulannya adalah baik Allah Bapa, Yesus, dan Roh Kudus bukanlah Tuhan. Mereka menjadi Tuhan hanya jika berkumpul menjadi satu. Tapi masing-masingnya bukan Tuhan. Mari kita tinjau lebih dalam “Indonesia terdiri dari 250 juta pribadi. Lalu Indonesia ada berapa? CUMA SATU.” Tidak ada yang salah dengan dengan logika ini. Tapi, kalau saya ambil satu penduduk (pribadi) Indonesia, apakah dia Indonesia? Jawabannya: dia bukan Indonesia, tapi penduduk Indonesia. Indonesia ada karena adanya 250 juta pribadi, tapi masing-masing pribadi bukanlah Indonesia. Analogi ini justru menjelaskan bahwa Tuhan adalah organisasi yang terdiri dari tiga anggota. Organisasi terdiri dari beberapa anggota yang memiliki satu tujuan. Masing-masing anggota tersebut secara pribadi bukanlah organisasi tersebut, tapi hanya anggota organisasi.

 Dalam contoh lain, penulis mejelaskan trinitas dengan analogi seperti ini:

‘’’

Contoh #3: Alkitab ada banyak atau cuma satu?

Sama saja sih sebenarnya seperti contoh #1, namun saya akan menggunakan contoh Alkitab.

Misalnya di rumah anda punya beberapa Alkitab dengan ukuran berbeda-beda, ada yang besar, ada yang kecil, ada pula Alkitab di smartphone anda.

Artinya apa? Secara esensi ALKITAB itu cuma ada SATU, karena dari berbagai jenis Alkitab yang anda miliki, semuanya adalah sama, yaitu Firman Tuhan.

‘’’

Saya fikir ini analogi yang ini lebih baik dibandingkan analogi sebelumnya. Mari kita pikirkan lebih dalam. Dengan adanya tiga alkitab berbeda, maka secara esensi alkitab ada satu karena isinya sama. Esensi dari alkitab adalah isinya, bukan fisiknya. Jadi kesimpulannya walaupun secara jumlah ada tiga, tapi secara esensi cuma satu. Dalam konteks ini, dikatakan satu jika esensinya (isinya) sama.

Sekarang mari kita analisis Trninitas dengan analogi diatas. Jumlah pribadi Tuhan ada tiga, tapi secara esensi adalah satu. Saya tebalkan frase “secara esensi” karena inilah yang (mungkin) membuat trinitas menjadi logis. Nah sekarang pertanyaannya, apa esensi Tuhan? Saya sudah pernah membahas tentang syarat Tuhan di tulisan saya sebelumnya. Saya fikir esensi Tuhan adalah esa, tidak ada saingan, tidak ada yang sama dengannya. Tuhan adalah sang pencipta sehingga Dia tidak terjebak oleh ciptaannya termasuk ruang dan waktu. Dengan esensi Tuhan seperti ini, mari kita bahas lebih dalam. Untuk Allah Bapa dalam Kristen tidak ada masalah dengan esensi Tuhan karena Dia memiliki syarat ketuhanan. Bagaimana dengan Yesus? Dalam kepercayaan Kristen Yesus lahir dari seorang Maria, kemudian Mati disalib, kemudian Bangkit (Mohon koreksi jika salah). Karena Yesus mengalami proses kelahiran dan kematian. Ini tidak sesuai dengan esensi Tuhan yang saya bahas sedikit di atas. Ini juga berarti Yesus tidak abadi karena baru ada setelah Ia dilahirkan. Oleh karena itu, secara esensi Yesus bukanlah Tuhan

Apa kesimpulan dari analogi ini?

Jika ditinjau secara esensi, maka Yesus bukanlah Tuhan

Jika ditinjau dari segi jumlahnya, maka Tuhan ada tiga

Jika saya rangkum dari semua pembahasan diatas, maka setidaknya ada tiga kesimpulan dari masing-masing penjelasan TRINITAS yang berbeda:

  • Kesimpulan premis-premis Trinitas: Tuhan itu ada tiga
  • Kesimpulan analogi 1: Ketiganya bukan Tuhan (masing-masing hanya anggota organisasi Tuhan)
  • Kesimpulan analogi 3: Yesus bukan Tuhan atau Tuhan ada tiga

(Notes: Oh ya jika ada bertanya kenapa analoginya 1 dan 3, itu karena dalam website rujukannya sebenarnya ada analogi ke 2. Tapi ini analogi ke 2 tidak saya bahas karena sangat tidak jelas. Penulisnya membahas 1+1+1=3 dengan 1*1*1=1. Bagi saya ini argumentasinya sudah cacat secara logika, jadi saya agak males membahasnya. Silakan langsung saja ke website aslinya jika ingin membacanya.)

Secara akal dan logika, konsep trinitas memiiliki kesimpulan yang masih ambigu (memiiliki beberapa makna). Dan parahnya lagi semuanya saling bertentangan. Saya beberapa kali mencoba mencari diskusi tentang Trinitas seperti ini, namun yang sering kali terjadi di akhir diskusi adalah pernyataan seperti “ini adalah misteri” atau “akal kita tidak mampu menjangkaunya”. Lalu apakah kita harus memilih dengan cara misteri pula? Seperti yang saya sebutkan di awal, memilih agama harus dengan hati-hati karena implikasinya kehidupan di akhirat. Jadi kita seharusnya punya argumentasi yang kuat dalam memilih agama.

Dengan adanya permasalahan logika dalam trinitas seperti ini, saya pribadi tidak mau ambil resiko untuk akhirat saya. Semoga Allah SWT selalu menjaga iman saya dalam Tauhid yang lurus.


TAUHID vs TRINITAS (part 1)

By Panjul

Pindah agama dari agama satu ke agama lainnya sepertinya menjadi hal yang lumrah di Indonesia. Karena memang Indonesia menjamin kebebasan beragama. Kebanyakan di Indonesia perpindahan agama terjadi antara islam dan Kristen (dan katolik). Pindah agama biasanya menjadi ramai jika orang yang pindah agama tersebut adalah seorang yang terkenal, sebutlah nama: Asmirandah, Dedy Corbuzier, Reza Rahadian, Nafa Urbach, dan masih banyak lagi. Alasan mereka pindah agama pun berbagai macam seperti: pernikahan, merasa tidak nyaman dengan agama awalnya, karena mempelajari agama sehingga yakin dengan agama yang dipelajarinya, dan alasan lainnya.

Karena yang banyak terjadi di Indonesia adalah perpindahan antara Islam dan Kristen, maka dalam tulisan ini saya coba bandingkan kedua agama tersebut. Sebenarnya banyak hal yang bisa dibandingkan dari dua agama. Dalam agama Islam dan Kristen memiliki banyak hal yang sama, namun ada hal paling fundamental yang berbeda. Hal yang paling fundamental inilah yang menjadikan kedua agama ini berbeda, yaitu dalam konsep Ketuhanan. Konsep ketuhanan dalam Islam dikenal dengan istilah Tauhid sedangkan dalam Kristen dikenal dengan istilah TRINITAS.

Begitu seseorang menganut agama tertentu, maka orang tersebut akan terikat dalam hukum-hukum agama yang dianutnya. Memang, dalam agama mananpun ada perbedaan mengenai hukum-hukum walaupun masih dalam suatu agama. Misal dalam islam ada perbedaan hukum menurut mazhabnya. Sama halnya dengan agama Kristen bahwa ada berbagai macam aliran dalam Kristen. Walaupun dalam satu agama tertentu terdapat perbedaan, namun konsep ketuhanannya sama, yaitu Tauhid dalam Islam dan Trinitas dalam Kristen. Oleh karena itu, konsep Tauhid dan Trinitas inilah yang perlu dicermati saat memilih atau pindah agama (Terutama Islam-Kristen).

Konsep Tauhid (Mohon koreksi jika ada yang salah)

Secara ringkas Tauhid adalah konsep mengesakan Tuhan (Allah). Dalam islam dikenal dengan kalimat “Laa ilaha illallah”, yang artinya tiada ilah (yang berhak disembah) selain Allah. Makna Tauhid menjadi fundamental karena ini berarti seorang muslim tidak boleh menyembah selain Allah. Oleh karena itu seorang muslim tidak diperkenankan mengkultuskan seseorang. Bahkan Nabi Muhammad sebagai orang yang paling disanjung oleh umat islam pun hanyalah sebagai nabi dan tidak boleh mengkultuskannya. Jika ada umat islam yang menyembah atau mengkultuskan selain Allah, maka orang tersebut telah berbuat syirik (menyekutukan Allah). Meyekutukan Allah merupakan dosa yang paling besar dalam islam.

Konsep Trinitas (Mohon koreksi juga jika ada yang salah)

Konsep Trinitas menyatakan bahwa Allah adalah tiga pribadi atau hipostasis yang sehakikat (konsubstansial)—BapaPutra (Yesus Kristus), dan Roh Kudus—sebagai "satu Allah dalam tiga Pribadi Ilahi". Ketiga pribadi ini berbeda, tetapi merupakan satu "substansi, esensi, atau kodrat" (homoousios).[4] Dalam konteks ini, "kodrat" adalah apa Dia, sedangkan "pribadi" adalah siapa Dia (Wikipedia)

Penjelasan di atas saya kutip dari Wikipedia. Bagi saya (atau mungkin juga pembaca), konsep yang Trinitas yang saya kutip diatas membingungkan. Oleha karenanya saya mencoba mencari penjelasan lebih detil tentang konsep ini. Enaknya zaman sekarang adalah ada internet, jadi kita hanya perlu mengetik kata kunci dan informasi yang kita cari pun sebagian besar dapat didapat. Setelah mencoba mencari penjelasan tentang Trinitas, akhirnya saya membaca di situs berikut:

https://gadoga.com/mengerti-Allah-tritunggal-trinitas-dengan-mudah.html

Dalam website tersebut, seorang penulis mencoba menjelaskan sebisa mungkin agar pembacanya mengerti konsep tritunggal bahkan dilengkapi dengan analoginya. Berikut saya kutip inti penjelasan dari situs tersbut:

‘’’

Yup, itulah yang benar. Jadi:

Allah Bapa BUKAN Yesus BUKAN Roh Kudus

Yesus BUKAN Allah Bapa BUKAN Roh Kudus

Roh Kudus BUKAN Allah Bapa BUKAN Yesus

Allah Bapa adalah Tuhan, Yesus adalah Tuhan, Roh Kudus adalah Tuhan

 ‘’’

Setelah membahas kedua konsep ketuhanan di atas, lalu bagaimana kita harus bersikap? Ya tergantung kita di posisi seperti apa. Jika kita sudah mantap dengan agama yang kita anut sekarang, ya terima saja masing-masing konsep tanpa perlu mempertanyakan. Yang penting adalah saling menghormati. Jika kita adalah orang yang sedang mencari kebenaran, ya perlu kita pelajari lebih jauh tentang kedua konsep tersebut. Kita harus uji kedua konsep tersebut.

Memilih agama bukanlah hal yang bisa sembarangan kita lakukan. Kenapa? Kedua agama sama-sama mengklaim bahwa hanya dengan agama tersebutlah kita bisa selamat di akhirat nanti. Tujuan utama kita memilih agama bukan hanya untuk di dunia saja tapi juga untuk keselamatan di akhirat yang akan kita alami setelah mati. Lalu agama mana yang benar? Ada pendapat yang kira-kira intinya begini: “semua agama itu benar dan dapat menuju Tuhan yang sama atau surga di akhirat nanti”. Jika pendapat ini benar, maka akan bagus karena kita tidak perlu khawatir memilih agama manapun. Tapi jika pendapat ini salah (artinya: hanya satu agama yang benar), maka jika kita terlanjur memilih agama yang salah, kita tidak akan selamat di akhirat kelak. Oleh karena itu, sebelum kita mati, kita (setidaknya saya) seharusnya memilih agama dengan cermat dan tidak sembarangan memilih agama. Lalu bagaimana cara memilih agama yang benar?

Ya kita harus punya standard untuk menentukan agama mana yang benar. Menurut saya konsep ketuhanan adalah yang paling penting dalam semua agama (terutama Islam dan Kristen). Kalau seorang muslim meyakini ada Tuhan selain Allah maka dia sudah keluar dari agama islam. Begitu pula dalam Kristen, jika tidak percaya bahwa Yesus itu Tuhan maka kita tidak akan selamat. Oleh karena itu konsep ketuhanan itu lah yang harus kita uji standard kebenarannya. Menguji konsep ketuhanan adalah langkah pertama yang bisa kita lakukan untuk menentukan kebenaran sebuah agama. Setidaknya dengan langkah pertama ini, kita bisa mengeliminasi agama-agama yang tidak benar sehingga dapat mengerucut ke agama tertentu. Selanjutnya, bagaimana jika ada lebih dari satu agama yang lulus uji konsep ketuhanan? Berarti kita buat lagi standard yang adil untuk membandingkannya, misal: kitab sucinya atau pembawa agama tersebut. Tahap ini tidak dibahas di tulisan ini. Mungkin jika ada kesempatan akan dibahas di tulisan lain.

Di bagian ini adalah cara bagaimana saya menguji kebenaran konsep ketuhanan dalam Islam dan Kristen. Saya sangat menghormati jika ada yang tidak setuju dengan cara saya ini. Jika ada yang ingin didiskusikan pun saya sangat terbuka. Okay, mari kita mulai.

Pertama, coba lupakan dalil-dalil dari kitab suci baik Quran maupun Alkitab. Kenapa? Kalau kita mengacu pada Quran dan Alkitab maka kita menjadi tidak fair. Maksud saya, kalau rujukan kita Quran maka bisa jadi kita akan condong ke Islam, begitu juga jika kita merujuk ke Alkitab maka bisa jadi kita jadi akan condong ke Kristen.

Kedua, lalu apa rujukan kita? Jawabannya adalah akal dan logika. Kenapa? Karena semua manusia punya akal, tinggal mau dipakai atau tidak. Menentukan keputusan atau kesimpulan akan lebih adil dan tepat jika kita gunakan akal kita, bukan menggunakan perasaan.

Ketiga, sebisa mungkin jangan memutuskan/menyimpulkan dengan perasaan. Analoginya seperti ini: jika kita sedang sidang skripsi di kampus, lalu ditanya oleh penguji tentang argumen kita.  Namun, kita menjawab “berdasarkan perasaan saya bla bla bla…" . Apa jadinya? Gagal total studi kita bertahun-tahun di kampus.

Setelah caranya kita tentukan seperti yang disebutkan di atas, mari kita ujikan kedua konsep tersebut diatas. Tujuan kita adalah menentukan mana yang benar antara konsep Tauhid dan Trinitas. Karena hanya ada satu yang benar, maka otomatis satu yang lainnya salah. Maksudnya adalah jika Tauhid ini benar maka Trinitas itu salah. Begitu juga sebaliknya: jika Trinitas itu benar maka Tauhid itu salah.

Mari kita uji dengan pertanyaan:

Pertanyaan Pertama, Siapa Tuhan?

Dalam tauhid: Hanya Allah

Dalam Trinitas: Allah Bapa adalah Tuhan, Roh Kudus adalah Tuhan, Yesus adalah Tuhan

Pertanyaan Kedua, ada Berapa Tuhan?

Dalam Tauhid: Satu

Dalam Trinitas: Satu

Dari kedua pertanyaan tersebut, “terlihat” Tauhid lebih logis dan konsisten. Kenapa? Dalam trinitas ada tiga pribadi, namun trinitas tetap bilang bahwa hanya ada satu Tuhan. Apakah ini masuk akal dan logis? Bisa iya bisa tidak. Hal ini terjadi mungkin karena kita tidak paham tentang trinitas. Oleh karenaya mari kita uji lebih dalam tentang trinitias ini, baik secara konsep dan analoginya.

Senin, 26 April 2021

Alkitab tidak menyatakan bahwa Yesus itu Tuhan, Benarkah?

 By Panjul

Mungkin pertanyaan ini akan muncul jika Anda menonton debat semacam Ahmad Deedat dan Zakir Naik. Mereka membuat sebuah tantangan yang isinya kira-kira begini: Kalau ada pernyataan di dalam Alkitab (bible) yang menyatakan secara jelas (bukan Ambigu) bahwa Yesus berkata “Aku adalah Tuhan” atau “Sembahlah Aku”, maka mereka (Ahmad Deedat dan Zakir Naik) akan menerima Kristen saat itu juga.

Orang awam seperti saya mungkin akan berfikir, berani banget nih orang bikin taruhan dengan agamanya. Memang di acara debat tersebut, tidak ada yang dapat membuktikan bahwa ada pernyataan jelas di alkitab bahwa Yesus adalah Tuhan. Nah, saya jadi penasaran dan bertanya-tanya: apa benar tidak ada peranyataan seperti itu di alkitab? Kalau memang tidak ada, kenapa Yesus dianggap Tuhan oleh orang-orang Kristen?

Saya sangat sepakat bahwa jika ingin tahu suatu agama, maka lihatlah kitab sucinyanya. Contoh: jika ingin tahu islam maka bacalah Quran, bukan menilai dari orangnya atau ajaran di masjid. Begitu juga dengan agama Kristen, apabila ingin tahu Kristen maka bacalah Alkitabnya, bukan lihat orang Kristen atau ajaran gerejanya. Kenapa saya sepakat ini? Karena Quran, Alkitab, Weda, Taurat, dan kitab suci lainnya adalah kitab suci (bagi yang percaya) yang seharusnya menjadi rujukan paling fundamental. Sedangkan ajaran gereja atau ajaran di masjid bisa jadi tidak sesuai dengan kitab sucinya. Kita bisa amati, ada banyak aliran dalam agama apapun itu. Lalu yang benar yang mana? Dengan adanya kitab suci, maka kita punya standard untuk menentukan mana yang paling sesusai dengan kitab sucinya.

Balik ke pertanyaan “apa benar tidak ada peranyataan jelas seperti itu (Yesus adalah Tuhan) di alkitab?”. Terus terang saya tidak pernah memeriksa satu persatu ayat-ayat di Alkitab, banyak banget kalo ngecek satu-satu. Akhirnya saya browsing-browsing di website Kristen (dan Katolik). Ternyata, orang Kristen sendiri tahu bahwa memang tidak ada ayat atau pernyataan yang jelas (tanpa adanya ambigu) yang bilang bahwa Yesus itu Tuhan. Dibawah ini adalah dua website yang saya baca:

Okay, sampai sini saya jadi percaya bahwa memang tidak ada pernyataan seperti itu dalam Alkitab. Nah, pertanyaan sekarang adalah: Kalau memang tidak ada ayat yang menyatakan itu, mengapa orang Kristen menyembah Yesus. Setelah saya coba baca penjelasan di dua website di atas, yang saya tangkap adalah orang Kristen menafsirkan ayat-ayat (yang ambigu) yang ada dalam alkitab untuk diambil kesimpulannya yaitu Yesus itu Tuhan. Beberapa contoh yang dijelaskan dalam website tersebut adalah

  • Yohanes 10:30, “Aku dan Bapa adalah satu."
  • Yohanes 10:33, "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah"
  • Yohanes 8:58 “Sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada."
  • Yohanes 1:1 mengatakan, “Firman itu adalah Allah
  • Yohanes 1:14 mengatakan, “Firman itu telah menjadi manusia.”

Inti yang bisa saya ambil dari penjelasan website di atas adalah anggapan bahwa Yesus itu Tuhan berasal dari penafsiran ayat-ayat Alkitab yang memang ambigu. Dengan menafsirkan Yesus sebagai Tuhan maka terjadilah kontradiksi.

Beberapa contoh hal yang janggal jika menganggap Yesus sebagai Tuhan:

  • Yesus berdoa kepada Allah dan mengajarkan untuk menyembah Allah saja.  Ini menunjukkan Allah adalah Tuhan dan Yesus merupakan hamba Allah
  • Yesus mati disalib. Apakah Tuhan bisa mati? Apakah pantas sesuatu yang bisa mati disembah manusia
  • Yesus sendiri mengaku Nabi (Utusan Allah) di Yohanes 8:29

Coba bandingkan jika Yesus dianggap sebagai nabi atau utusan Allah, maka hal-hal yang janggal diatas tidak terjadi. Semuanya menjadi masuk akal. Yesus dapat menghidupkan orang yang sudah mati, menyembuhkan orang sakit, berbicara saat bayi, dan melakukan mukjizat lainnya karena izin Allah. Sama halnya dengan tongkat nabi Musa menjadi ular dan Nabi musa membelah lautan, semuanya atas izin Allah SWT. Inilah konsep yang diimani dalam islam. Umat islam memuliakan Isa As (Yesus). Tidak sah iman seorang muslim jika tidak mengimani bahwa nabi Isa adalah orang yang sangat mulia. Bahkan umat islam mengamalkan ajaran-ajaran nabi Isa yang paling utama yaitu hanya menyembah dan berdoa kepada Allah saja.

Jika ditanya Yesus itu Tuhan atau Nabi? Maka jawaban saya jelas bahwa Yesus (Isa As) adalah seorang Nabi yang mulia yang diutus oleh Allah SWT untuk kaum bani israil. Semoga Allah meneguhkan iman kita dalam Tauhid yang benar.


Kamis, 08 April 2021

Yesus Kristus atau Isa As itu siapa?

By: Panjul

Namanya Yesus Kristus dalam agama Kristen dan Isa As dalam agama Islam. Apakah Yesus Kristus dan Isa As adalah orang yang sama? Kalau kita lihat dari kisah-kisah dalam agama Kristen dan Islam, sepertinya mengacu pada orang yang sama. Kenapa? Kedua agama tersebut menceritakan hal yang sama contoh: dapat menghidupkan orang mati dan menyembuhkan orang buta. Oleh karena itu dalam tulisan ini, kita anggap Yesus dan Isa adalah orang yang sama.

Walaupun Yesus wajib diimani (dipercaya) di agama Islam dan Kristen, namun konsepnya sangat berbeda jauh. Dalam Kristen, Yesus itu adalah Tuhan (lebih tepatnya satu dari tritunggal). Dalam Islam, Yesus adalah utusan Tuhan (Nabi), sehingga derajatnya sama seperti nabi-nabi yang lain (Ibrahim, Musa, dan Muhammad).

Perdebatan Yesus sebagai nabi atau Tuhan bukanlah hal yang baru. Masing-masing agama punya dalil dari Kitab sucinya masing-masing. Permasalahannya adalah Agama Islam menganggap Alkitab sudah tidak asli, begitu juga sebaliknya Agama Kristen menganggap Alquran bukan lah wahyu dari Allah, melainkan karangan Nabi Muhammad. Sebenarnya bagi umat Islam atau Kristen tidak masalah karena masing-masing mereka sudah beriman dengan caranya masing-masing. Toleransi pun tetap harus terjaga antara penganut Islam dan Kristen.

Perbedaan pendapat ini juga mungkin salah satunya terjadi karena rujukannya berbeda (Alquran dan Alkitab), maka jelas kesimpulannya kemungkinan besar akan berbeda. Namun, yang ingin saya tuliskan kali ini adalah bagaimana menilai perbedaan ini jika kita lihat Konsep Yesus sebagai Utusan Allah (nabi) atau Tuhan sebagai hasil produk saja. Maksudnya begini, sekarang ada dua jenis pendapat mengenai Yesus, yaitu sebagai Tuhan dan sebagai Nabi. Kemudian, kita bandingkan konsep ini namun kita coba lupakan dalil-dalil Alquran dan Alkitab. Kenapa saya buat seperti ini? Karena Islam tidak mempercayai kemurnian Alkitab dan Kristen juga tidak percara bahwa Alquran adalah dari Tuhan. Jadi sekalian saja kita sejenak lupakan dalil-dalil kedua kitab rujukan itu dan kita gunakan akal kita yang sudah pasti semua manusia gunakan. Analoginya seperti ini: misal ada dua buah mobil, Avanza dan Ertiga. Kedua mobil ini dibuat oleh perusahaan berbeda. Namun, saya ga mau tahu bagaiamana proses pembuatan mobilnya yang jelas saya akan bandingkan di speknya.

Isa As dalam Islam

Saya akan mulai Isa As dalam Islam. Saya coba tuliskan sebisa saya dan mohon koreksinya jika ada yang salah. Dalam Islam, Isa As adalah salah satu Utusan Allah (nabi). Isa As diberikan mukjizat dapat menyembuhkan orang buta, mengidupkan orang mati, berbicara saat bayi, dan lain-lain. Semua mukjizat ini dapat terjadi semata-mata karena izin Tuhan (Allah SWT). Tanpa izin Allah, Nabi Isa ga bisa melakukan semua mukjizat tersebut. Orang Islam dianggap tidak beriman jika tidak percaya kepada Nabi Isa As sebagai nabi. Orang Islam pun harus menyebutkan Alaihissalam (As) setelah namanya sebagai bentuk pengormatan kepada beliau. Nabi Isa tidak mati disalib, yang disalib adalah orang yang wajahnya diserupakan oleh Allah SWT. Saat itu nabi Isa As diangkat oleh Allah dan akan kembali ke dunia sebagai salah satu tanda datangnya kiamat. Ini yang saya ketahui tentang nabi Isa As dalam Islam. FYI: saya orang islam (setidaknya di KTP saya) tapi masih cetek ilmunya, kebanyakan belajar ilmu dunia (engineering) dan mikir yang aneh aneh kayak bikin tulisan seperti ini. Jadi kalau ada pembaca muslim yang ilmunya tinggi dan melihat ada kesalahan dalam tulisan saya ini mohon dikoreksi ya.

Bagi saya tidak ada masalah dengan konsep seperti ini yaitu Isa As sebagai Utusan Allah: simple, tidak ada kontradiksi, dan semuanya dapat diterima dengan akal saya. Namun, kalau ada yang mau dibantah (khususnya pembaca yang beragama Kristen) silakan diskusikan di kolom komentar ya. Siapa tahu ada sudut pandang lain yang belum saya tahu. Tapi ingat, jangan bawa-bawa dalil karena kita coba lupakan dulu sejenak di sini.

Yesus Kristus dalam Kristen (dan Katolik)

Sebelum saya tulis lebih jauh, saya ingin bilang bahwa saya bukan orang Kristen. Jadi apa yang saya tulis disini hanya sebatas pengetahuan saya baik yang saya dapat dari membaca atau saya dapat karena didatangi misionaris. Salah satu sumber yang saya ambil adalah dari https://wanita.sabda.org/. Yang ambil dari sini adalah tulisan dari pendeta Immanuel Pakan. Oleh karena itu bagi temen-temen Kristen mohon koreksinya jika ada yang salah dari tulisan saya ini.

Dalam ajaran Kristen (dan Katolik), Yesus merupakan salah satu bagian dari Trinitas. Trinitas sendiri terdiri dari Bapa (Allah), Roh Kudus, dan Anak (Yesus). Yesus memiliki sifat keilahian sehingga dapat melakukan mukjizat seperti menghidupkan orang yang sudah mati. Yesus mengajarkan kepada murid-muridnya berdoa agar tidak jatuh dalam pencobaan. Yesus berdoa kepada Bapa agar cawan itu berlalu Pada-Nya. Yesus juga dianggap menebus dosa manusia dengan darah. Yesus mati disalib kemudian pada hari ketiga terjadi kebangkitan Yesus. Kemudian Yesus juga akan kembali ke dunia nanti. Inilah yang saya ketahui tentang Yesus. Sekali lagi jika ada yang salah mohon koreksinya.

Pada bagian ini, saya akan menuliskan pendapat saya. Mungkin tulisan dibawah ini agak sensitif. Tapi saya akan coba tuliskan sebaik mungkin. Bagi yang baperan atau mudah tersinggung sebaiknya skip saja bagian ini. Dengan konsep Yesus sebagai tuhan, akan banyak hal kontradiktif disini, ambigu, dan menimbulkan tanda tanya besar. Mari kita bahas:

Pertama, Yesus adalah anak Allah dalam trinitas. Ada yang mengartikan bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. Tapi, Yesus berdoa kepada Bapa (Allah), bukankah ini aneh? Jika Yesus adalah Allah maka dia tidak perlu berdoa kepada Allah karena dirinya adalah Allah. Apakah ada penjelasan lain?

Kedua, Yesus menebus dosa manusia. Orang yang menerima Dia sebagai juru selamat maka akan kekal disurga. Pertanyaannya, menebus dosa manusia kepada siapa? Saat kita menebus sesuatu maka tebusannya kita berikan ke seseorang atau lembaga tertentu. Misalnya saya menebus Hutang yang dimiliki oleh adik saya ke seorang rentenir. Artinya saya memberikan sejumlah uang ke rentenir tersebut sehingga adik saya lunas hutangnya. Sekarang, Yesus menebus dosa kepada siapa?  Jika tebusannya itu dikorbankan ke Tuhan, lalu Tuhannya siapa? yang jelas pasti bukan Yesus. Lagi pula jika Yesus adalah Tuhan, ngapain nebus dosa, lebih baik ampuni saja dosa kan dia Tuhannya.

lebih lagi, bagi saya ini tidak adil sekali. Artinya jika orang menerima Dia sebagai juru selamat, lalu tinggal berbuat maksiat saja, toh akan masuk surga juga. Dibandingkan islam, yaitu: semua perbuatan sekecil apapun pasti akan diminta pertanggung jawaban di akhirat nanti. Manakah yang lebih adil?

Ketiga, Yesus mati disalib. Bagi saya ini fatal sekali. Tuhan seharusnya tidak mati. Buat apa menyembah pada suatu yang dapat mati. Dalam konsep trinitas pun terasa bahwa Bapa (Allah) adalah yang abadi dan Yesus pun berdoa kepada Allah. Lalu kenapa kita harus menganggap Yesus sebagai Tuhan?

Kemudian, jika kita coba hubungkan dengan konsep trinitas, Yesus mati selama 3 hari kemudian bangkit. Artinya selama 3 hari, hanya ada 2 anggota Trinitas saja. Berarti  Setidaknya selama 3 hari ada kekosongan posisi Anak Allah

Sebenarnya saya sudah coba cari diskusi untuk 3 hal diatas. Namun, yang sering saya dapatkan diakhir diskusi tersebut adalah jawaban seperti “inilah misteri Tuhan, kita tidak akan mengerti”. Saya fikir konsep ketuhanan adalah yang paling fundamental dalam agama. Oleh karena itu sifatnya harus universal yang dapat diterima manusia, yaitu akal.

Saya bersyukur dilahirkan islam, walaupun pemahamannya masih dangkal. Lalu, dengan mencoba mempelajari konsep trinitas, justru saya semakin yakin bahwa keesaan Allah yang diajarkan oleh islam adalah yang benar. Saya tidak ingin beragama hanya karena keturunan saja, tapi harus dengan akal juga. Semoga Allah selalu menetapkan iman islam pada saya selalu.