Selasa, 27 April 2021

TAUHID vs TRINITAS (part 2)

By panjul

Sekarang kita uji lebih dalam tentang TRINITAS karena pada uji sebelumnya TRINITAS memiliki masalah dengan konsepnya, sedangkan Tauhid tidak ada masalah. Jika ada yang berfikir bahwa Tauhid juga bermasalah, silakan didiskusikan di komentar. Namun perlu diingat, yang kita uji adalah konsepnya bukan dalilnya. Oleh karena itu jangan bawa-bawa dalil dari Quran dan Alkitab untuk berdiskusi di tahap ini. 

Oke mari kita mulai dari inti Trinitas yang ini:

 ‘’’           

Allah Bapa BUKAN Yesus BUKAN Roh Kudus

Yesus BUKAN Allah Bapa BUKAN Roh Kudus

Roh Kudus BUKAN Allah Bapa BUKAN Yesus

Allah Bapa adalah Tuhan, Yesus adalah Tuhan, Roh Kudus adalah Tuhan

 ‘’’

Kalau saya pelajari lebih dalam, keempat kalimat di atas adalah premis. Jadi belum ada kesimpulannya. Dari tiga premis pertama menyatakan bahwa Allah Bapa, Yesus dan Roh Kudus adalah tiga objek yang berbeda. Kalimat keempat menyatakan siapa itu masing-masing dari tiga objek tersebut. Kalau kita mengacu pada keempat kalimat ini, maka kesimpulannya adalah Tuhan ada tiga. Jika belum mengerti mari kita coba analogikan seperti ini:

           Joko BUKAN Acong BUKAN Sitorus

Acong BUKAN Joko BUKAN Sitorus

Sitorus BUKAN Joko BUKAN Acong

Joko adalah polisi, Acong adalah Polisi, Sitorus adalah Polisi

(note: mohon maaf jika ada nama yang sama dengan yang di atas)

Analogi diatas saya buat setara dengan Trinitas. Dengan menggunakan analogi tersebut, mari kita uji dengan peratanyaan serupa:

Pertanyaan satu: Siapa polisi?

Jawaban: Joko adalah polisi, Acong adalah Polisi, Sitorus adalah Polisi

Pertanyaan dua: Ada berapa polisi?

Jawaban: tiga

Dengan penjelasan Trinitas seperti itu, maka kesimpulannya adalah Tuhan ada tiga. Berdasarkan syarat Tuhan dalam tulisan lain, yaitu Tuhan haruslah satu (Esa). Artinya, jika penjelasan trinitas adalah seperti ini, maka Trinitas itu tidak benar karena menganggap Tuhan ada tiga.

 Dalam sumber yang sama (https://gadoga.com/), trinitas juga dijelaskan dengan analogi seperti ini:

‘’’

Contoh #1: Persatuan Indonesia

Indonesia terdiri dari 250 juta pribadi. Lalu Indonesia ada berapa? CUMA SATU.

Tuhan terdiri dari tiga pribadi. Lalu Tuhan ada berapa? ya CUMA SATU

‘’’

Kalau analoginya seperti ini, maka kesimpulannya adalah baik Allah Bapa, Yesus, dan Roh Kudus bukanlah Tuhan. Mereka menjadi Tuhan hanya jika berkumpul menjadi satu. Tapi masing-masingnya bukan Tuhan. Mari kita tinjau lebih dalam “Indonesia terdiri dari 250 juta pribadi. Lalu Indonesia ada berapa? CUMA SATU.” Tidak ada yang salah dengan dengan logika ini. Tapi, kalau saya ambil satu penduduk (pribadi) Indonesia, apakah dia Indonesia? Jawabannya: dia bukan Indonesia, tapi penduduk Indonesia. Indonesia ada karena adanya 250 juta pribadi, tapi masing-masing pribadi bukanlah Indonesia. Analogi ini justru menjelaskan bahwa Tuhan adalah organisasi yang terdiri dari tiga anggota. Organisasi terdiri dari beberapa anggota yang memiliki satu tujuan. Masing-masing anggota tersebut secara pribadi bukanlah organisasi tersebut, tapi hanya anggota organisasi.

 Dalam contoh lain, penulis mejelaskan trinitas dengan analogi seperti ini:

‘’’

Contoh #3: Alkitab ada banyak atau cuma satu?

Sama saja sih sebenarnya seperti contoh #1, namun saya akan menggunakan contoh Alkitab.

Misalnya di rumah anda punya beberapa Alkitab dengan ukuran berbeda-beda, ada yang besar, ada yang kecil, ada pula Alkitab di smartphone anda.

Artinya apa? Secara esensi ALKITAB itu cuma ada SATU, karena dari berbagai jenis Alkitab yang anda miliki, semuanya adalah sama, yaitu Firman Tuhan.

‘’’

Saya fikir ini analogi yang ini lebih baik dibandingkan analogi sebelumnya. Mari kita pikirkan lebih dalam. Dengan adanya tiga alkitab berbeda, maka secara esensi alkitab ada satu karena isinya sama. Esensi dari alkitab adalah isinya, bukan fisiknya. Jadi kesimpulannya walaupun secara jumlah ada tiga, tapi secara esensi cuma satu. Dalam konteks ini, dikatakan satu jika esensinya (isinya) sama.

Sekarang mari kita analisis Trninitas dengan analogi diatas. Jumlah pribadi Tuhan ada tiga, tapi secara esensi adalah satu. Saya tebalkan frase “secara esensi” karena inilah yang (mungkin) membuat trinitas menjadi logis. Nah sekarang pertanyaannya, apa esensi Tuhan? Saya sudah pernah membahas tentang syarat Tuhan di tulisan saya sebelumnya. Saya fikir esensi Tuhan adalah esa, tidak ada saingan, tidak ada yang sama dengannya. Tuhan adalah sang pencipta sehingga Dia tidak terjebak oleh ciptaannya termasuk ruang dan waktu. Dengan esensi Tuhan seperti ini, mari kita bahas lebih dalam. Untuk Allah Bapa dalam Kristen tidak ada masalah dengan esensi Tuhan karena Dia memiliki syarat ketuhanan. Bagaimana dengan Yesus? Dalam kepercayaan Kristen Yesus lahir dari seorang Maria, kemudian Mati disalib, kemudian Bangkit (Mohon koreksi jika salah). Karena Yesus mengalami proses kelahiran dan kematian. Ini tidak sesuai dengan esensi Tuhan yang saya bahas sedikit di atas. Ini juga berarti Yesus tidak abadi karena baru ada setelah Ia dilahirkan. Oleh karena itu, secara esensi Yesus bukanlah Tuhan

Apa kesimpulan dari analogi ini?

Jika ditinjau secara esensi, maka Yesus bukanlah Tuhan

Jika ditinjau dari segi jumlahnya, maka Tuhan ada tiga

Jika saya rangkum dari semua pembahasan diatas, maka setidaknya ada tiga kesimpulan dari masing-masing penjelasan TRINITAS yang berbeda:

  • Kesimpulan premis-premis Trinitas: Tuhan itu ada tiga
  • Kesimpulan analogi 1: Ketiganya bukan Tuhan (masing-masing hanya anggota organisasi Tuhan)
  • Kesimpulan analogi 3: Yesus bukan Tuhan atau Tuhan ada tiga

(Notes: Oh ya jika ada bertanya kenapa analoginya 1 dan 3, itu karena dalam website rujukannya sebenarnya ada analogi ke 2. Tapi ini analogi ke 2 tidak saya bahas karena sangat tidak jelas. Penulisnya membahas 1+1+1=3 dengan 1*1*1=1. Bagi saya ini argumentasinya sudah cacat secara logika, jadi saya agak males membahasnya. Silakan langsung saja ke website aslinya jika ingin membacanya.)

Secara akal dan logika, konsep trinitas memiiliki kesimpulan yang masih ambigu (memiiliki beberapa makna). Dan parahnya lagi semuanya saling bertentangan. Saya beberapa kali mencoba mencari diskusi tentang Trinitas seperti ini, namun yang sering kali terjadi di akhir diskusi adalah pernyataan seperti “ini adalah misteri” atau “akal kita tidak mampu menjangkaunya”. Lalu apakah kita harus memilih dengan cara misteri pula? Seperti yang saya sebutkan di awal, memilih agama harus dengan hati-hati karena implikasinya kehidupan di akhirat. Jadi kita seharusnya punya argumentasi yang kuat dalam memilih agama.

Dengan adanya permasalahan logika dalam trinitas seperti ini, saya pribadi tidak mau ambil resiko untuk akhirat saya. Semoga Allah SWT selalu menjaga iman saya dalam Tauhid yang lurus.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar