Selasa, 27 April 2021

TAUHID vs TRINITAS (part 2)

By panjul

Sekarang kita uji lebih dalam tentang TRINITAS karena pada uji sebelumnya TRINITAS memiliki masalah dengan konsepnya, sedangkan Tauhid tidak ada masalah. Jika ada yang berfikir bahwa Tauhid juga bermasalah, silakan didiskusikan di komentar. Namun perlu diingat, yang kita uji adalah konsepnya bukan dalilnya. Oleh karena itu jangan bawa-bawa dalil dari Quran dan Alkitab untuk berdiskusi di tahap ini. 

Oke mari kita mulai dari inti Trinitas yang ini:

 ‘’’           

Allah Bapa BUKAN Yesus BUKAN Roh Kudus

Yesus BUKAN Allah Bapa BUKAN Roh Kudus

Roh Kudus BUKAN Allah Bapa BUKAN Yesus

Allah Bapa adalah Tuhan, Yesus adalah Tuhan, Roh Kudus adalah Tuhan

 ‘’’

Kalau saya pelajari lebih dalam, keempat kalimat di atas adalah premis. Jadi belum ada kesimpulannya. Dari tiga premis pertama menyatakan bahwa Allah Bapa, Yesus dan Roh Kudus adalah tiga objek yang berbeda. Kalimat keempat menyatakan siapa itu masing-masing dari tiga objek tersebut. Kalau kita mengacu pada keempat kalimat ini, maka kesimpulannya adalah Tuhan ada tiga. Jika belum mengerti mari kita coba analogikan seperti ini:

           Joko BUKAN Acong BUKAN Sitorus

Acong BUKAN Joko BUKAN Sitorus

Sitorus BUKAN Joko BUKAN Acong

Joko adalah polisi, Acong adalah Polisi, Sitorus adalah Polisi

(note: mohon maaf jika ada nama yang sama dengan yang di atas)

Analogi diatas saya buat setara dengan Trinitas. Dengan menggunakan analogi tersebut, mari kita uji dengan peratanyaan serupa:

Pertanyaan satu: Siapa polisi?

Jawaban: Joko adalah polisi, Acong adalah Polisi, Sitorus adalah Polisi

Pertanyaan dua: Ada berapa polisi?

Jawaban: tiga

Dengan penjelasan Trinitas seperti itu, maka kesimpulannya adalah Tuhan ada tiga. Berdasarkan syarat Tuhan dalam tulisan lain, yaitu Tuhan haruslah satu (Esa). Artinya, jika penjelasan trinitas adalah seperti ini, maka Trinitas itu tidak benar karena menganggap Tuhan ada tiga.

 Dalam sumber yang sama (https://gadoga.com/), trinitas juga dijelaskan dengan analogi seperti ini:

‘’’

Contoh #1: Persatuan Indonesia

Indonesia terdiri dari 250 juta pribadi. Lalu Indonesia ada berapa? CUMA SATU.

Tuhan terdiri dari tiga pribadi. Lalu Tuhan ada berapa? ya CUMA SATU

‘’’

Kalau analoginya seperti ini, maka kesimpulannya adalah baik Allah Bapa, Yesus, dan Roh Kudus bukanlah Tuhan. Mereka menjadi Tuhan hanya jika berkumpul menjadi satu. Tapi masing-masingnya bukan Tuhan. Mari kita tinjau lebih dalam “Indonesia terdiri dari 250 juta pribadi. Lalu Indonesia ada berapa? CUMA SATU.” Tidak ada yang salah dengan dengan logika ini. Tapi, kalau saya ambil satu penduduk (pribadi) Indonesia, apakah dia Indonesia? Jawabannya: dia bukan Indonesia, tapi penduduk Indonesia. Indonesia ada karena adanya 250 juta pribadi, tapi masing-masing pribadi bukanlah Indonesia. Analogi ini justru menjelaskan bahwa Tuhan adalah organisasi yang terdiri dari tiga anggota. Organisasi terdiri dari beberapa anggota yang memiliki satu tujuan. Masing-masing anggota tersebut secara pribadi bukanlah organisasi tersebut, tapi hanya anggota organisasi.

 Dalam contoh lain, penulis mejelaskan trinitas dengan analogi seperti ini:

‘’’

Contoh #3: Alkitab ada banyak atau cuma satu?

Sama saja sih sebenarnya seperti contoh #1, namun saya akan menggunakan contoh Alkitab.

Misalnya di rumah anda punya beberapa Alkitab dengan ukuran berbeda-beda, ada yang besar, ada yang kecil, ada pula Alkitab di smartphone anda.

Artinya apa? Secara esensi ALKITAB itu cuma ada SATU, karena dari berbagai jenis Alkitab yang anda miliki, semuanya adalah sama, yaitu Firman Tuhan.

‘’’

Saya fikir ini analogi yang ini lebih baik dibandingkan analogi sebelumnya. Mari kita pikirkan lebih dalam. Dengan adanya tiga alkitab berbeda, maka secara esensi alkitab ada satu karena isinya sama. Esensi dari alkitab adalah isinya, bukan fisiknya. Jadi kesimpulannya walaupun secara jumlah ada tiga, tapi secara esensi cuma satu. Dalam konteks ini, dikatakan satu jika esensinya (isinya) sama.

Sekarang mari kita analisis Trninitas dengan analogi diatas. Jumlah pribadi Tuhan ada tiga, tapi secara esensi adalah satu. Saya tebalkan frase “secara esensi” karena inilah yang (mungkin) membuat trinitas menjadi logis. Nah sekarang pertanyaannya, apa esensi Tuhan? Saya sudah pernah membahas tentang syarat Tuhan di tulisan saya sebelumnya. Saya fikir esensi Tuhan adalah esa, tidak ada saingan, tidak ada yang sama dengannya. Tuhan adalah sang pencipta sehingga Dia tidak terjebak oleh ciptaannya termasuk ruang dan waktu. Dengan esensi Tuhan seperti ini, mari kita bahas lebih dalam. Untuk Allah Bapa dalam Kristen tidak ada masalah dengan esensi Tuhan karena Dia memiliki syarat ketuhanan. Bagaimana dengan Yesus? Dalam kepercayaan Kristen Yesus lahir dari seorang Maria, kemudian Mati disalib, kemudian Bangkit (Mohon koreksi jika salah). Karena Yesus mengalami proses kelahiran dan kematian. Ini tidak sesuai dengan esensi Tuhan yang saya bahas sedikit di atas. Ini juga berarti Yesus tidak abadi karena baru ada setelah Ia dilahirkan. Oleh karena itu, secara esensi Yesus bukanlah Tuhan

Apa kesimpulan dari analogi ini?

Jika ditinjau secara esensi, maka Yesus bukanlah Tuhan

Jika ditinjau dari segi jumlahnya, maka Tuhan ada tiga

Jika saya rangkum dari semua pembahasan diatas, maka setidaknya ada tiga kesimpulan dari masing-masing penjelasan TRINITAS yang berbeda:

  • Kesimpulan premis-premis Trinitas: Tuhan itu ada tiga
  • Kesimpulan analogi 1: Ketiganya bukan Tuhan (masing-masing hanya anggota organisasi Tuhan)
  • Kesimpulan analogi 3: Yesus bukan Tuhan atau Tuhan ada tiga

(Notes: Oh ya jika ada bertanya kenapa analoginya 1 dan 3, itu karena dalam website rujukannya sebenarnya ada analogi ke 2. Tapi ini analogi ke 2 tidak saya bahas karena sangat tidak jelas. Penulisnya membahas 1+1+1=3 dengan 1*1*1=1. Bagi saya ini argumentasinya sudah cacat secara logika, jadi saya agak males membahasnya. Silakan langsung saja ke website aslinya jika ingin membacanya.)

Secara akal dan logika, konsep trinitas memiiliki kesimpulan yang masih ambigu (memiiliki beberapa makna). Dan parahnya lagi semuanya saling bertentangan. Saya beberapa kali mencoba mencari diskusi tentang Trinitas seperti ini, namun yang sering kali terjadi di akhir diskusi adalah pernyataan seperti “ini adalah misteri” atau “akal kita tidak mampu menjangkaunya”. Lalu apakah kita harus memilih dengan cara misteri pula? Seperti yang saya sebutkan di awal, memilih agama harus dengan hati-hati karena implikasinya kehidupan di akhirat. Jadi kita seharusnya punya argumentasi yang kuat dalam memilih agama.

Dengan adanya permasalahan logika dalam trinitas seperti ini, saya pribadi tidak mau ambil resiko untuk akhirat saya. Semoga Allah SWT selalu menjaga iman saya dalam Tauhid yang lurus.


TAUHID vs TRINITAS (part 1)

By Panjul

Pindah agama dari agama satu ke agama lainnya sepertinya menjadi hal yang lumrah di Indonesia. Karena memang Indonesia menjamin kebebasan beragama. Kebanyakan di Indonesia perpindahan agama terjadi antara islam dan Kristen (dan katolik). Pindah agama biasanya menjadi ramai jika orang yang pindah agama tersebut adalah seorang yang terkenal, sebutlah nama: Asmirandah, Dedy Corbuzier, Reza Rahadian, Nafa Urbach, dan masih banyak lagi. Alasan mereka pindah agama pun berbagai macam seperti: pernikahan, merasa tidak nyaman dengan agama awalnya, karena mempelajari agama sehingga yakin dengan agama yang dipelajarinya, dan alasan lainnya.

Karena yang banyak terjadi di Indonesia adalah perpindahan antara Islam dan Kristen, maka dalam tulisan ini saya coba bandingkan kedua agama tersebut. Sebenarnya banyak hal yang bisa dibandingkan dari dua agama. Dalam agama Islam dan Kristen memiliki banyak hal yang sama, namun ada hal paling fundamental yang berbeda. Hal yang paling fundamental inilah yang menjadikan kedua agama ini berbeda, yaitu dalam konsep Ketuhanan. Konsep ketuhanan dalam Islam dikenal dengan istilah Tauhid sedangkan dalam Kristen dikenal dengan istilah TRINITAS.

Begitu seseorang menganut agama tertentu, maka orang tersebut akan terikat dalam hukum-hukum agama yang dianutnya. Memang, dalam agama mananpun ada perbedaan mengenai hukum-hukum walaupun masih dalam suatu agama. Misal dalam islam ada perbedaan hukum menurut mazhabnya. Sama halnya dengan agama Kristen bahwa ada berbagai macam aliran dalam Kristen. Walaupun dalam satu agama tertentu terdapat perbedaan, namun konsep ketuhanannya sama, yaitu Tauhid dalam Islam dan Trinitas dalam Kristen. Oleh karena itu, konsep Tauhid dan Trinitas inilah yang perlu dicermati saat memilih atau pindah agama (Terutama Islam-Kristen).

Konsep Tauhid (Mohon koreksi jika ada yang salah)

Secara ringkas Tauhid adalah konsep mengesakan Tuhan (Allah). Dalam islam dikenal dengan kalimat “Laa ilaha illallah”, yang artinya tiada ilah (yang berhak disembah) selain Allah. Makna Tauhid menjadi fundamental karena ini berarti seorang muslim tidak boleh menyembah selain Allah. Oleh karena itu seorang muslim tidak diperkenankan mengkultuskan seseorang. Bahkan Nabi Muhammad sebagai orang yang paling disanjung oleh umat islam pun hanyalah sebagai nabi dan tidak boleh mengkultuskannya. Jika ada umat islam yang menyembah atau mengkultuskan selain Allah, maka orang tersebut telah berbuat syirik (menyekutukan Allah). Meyekutukan Allah merupakan dosa yang paling besar dalam islam.

Konsep Trinitas (Mohon koreksi juga jika ada yang salah)

Konsep Trinitas menyatakan bahwa Allah adalah tiga pribadi atau hipostasis yang sehakikat (konsubstansial)—BapaPutra (Yesus Kristus), dan Roh Kudus—sebagai "satu Allah dalam tiga Pribadi Ilahi". Ketiga pribadi ini berbeda, tetapi merupakan satu "substansi, esensi, atau kodrat" (homoousios).[4] Dalam konteks ini, "kodrat" adalah apa Dia, sedangkan "pribadi" adalah siapa Dia (Wikipedia)

Penjelasan di atas saya kutip dari Wikipedia. Bagi saya (atau mungkin juga pembaca), konsep yang Trinitas yang saya kutip diatas membingungkan. Oleha karenanya saya mencoba mencari penjelasan lebih detil tentang konsep ini. Enaknya zaman sekarang adalah ada internet, jadi kita hanya perlu mengetik kata kunci dan informasi yang kita cari pun sebagian besar dapat didapat. Setelah mencoba mencari penjelasan tentang Trinitas, akhirnya saya membaca di situs berikut:

https://gadoga.com/mengerti-Allah-tritunggal-trinitas-dengan-mudah.html

Dalam website tersebut, seorang penulis mencoba menjelaskan sebisa mungkin agar pembacanya mengerti konsep tritunggal bahkan dilengkapi dengan analoginya. Berikut saya kutip inti penjelasan dari situs tersbut:

‘’’

Yup, itulah yang benar. Jadi:

Allah Bapa BUKAN Yesus BUKAN Roh Kudus

Yesus BUKAN Allah Bapa BUKAN Roh Kudus

Roh Kudus BUKAN Allah Bapa BUKAN Yesus

Allah Bapa adalah Tuhan, Yesus adalah Tuhan, Roh Kudus adalah Tuhan

 ‘’’

Setelah membahas kedua konsep ketuhanan di atas, lalu bagaimana kita harus bersikap? Ya tergantung kita di posisi seperti apa. Jika kita sudah mantap dengan agama yang kita anut sekarang, ya terima saja masing-masing konsep tanpa perlu mempertanyakan. Yang penting adalah saling menghormati. Jika kita adalah orang yang sedang mencari kebenaran, ya perlu kita pelajari lebih jauh tentang kedua konsep tersebut. Kita harus uji kedua konsep tersebut.

Memilih agama bukanlah hal yang bisa sembarangan kita lakukan. Kenapa? Kedua agama sama-sama mengklaim bahwa hanya dengan agama tersebutlah kita bisa selamat di akhirat nanti. Tujuan utama kita memilih agama bukan hanya untuk di dunia saja tapi juga untuk keselamatan di akhirat yang akan kita alami setelah mati. Lalu agama mana yang benar? Ada pendapat yang kira-kira intinya begini: “semua agama itu benar dan dapat menuju Tuhan yang sama atau surga di akhirat nanti”. Jika pendapat ini benar, maka akan bagus karena kita tidak perlu khawatir memilih agama manapun. Tapi jika pendapat ini salah (artinya: hanya satu agama yang benar), maka jika kita terlanjur memilih agama yang salah, kita tidak akan selamat di akhirat kelak. Oleh karena itu, sebelum kita mati, kita (setidaknya saya) seharusnya memilih agama dengan cermat dan tidak sembarangan memilih agama. Lalu bagaimana cara memilih agama yang benar?

Ya kita harus punya standard untuk menentukan agama mana yang benar. Menurut saya konsep ketuhanan adalah yang paling penting dalam semua agama (terutama Islam dan Kristen). Kalau seorang muslim meyakini ada Tuhan selain Allah maka dia sudah keluar dari agama islam. Begitu pula dalam Kristen, jika tidak percaya bahwa Yesus itu Tuhan maka kita tidak akan selamat. Oleh karena itu konsep ketuhanan itu lah yang harus kita uji standard kebenarannya. Menguji konsep ketuhanan adalah langkah pertama yang bisa kita lakukan untuk menentukan kebenaran sebuah agama. Setidaknya dengan langkah pertama ini, kita bisa mengeliminasi agama-agama yang tidak benar sehingga dapat mengerucut ke agama tertentu. Selanjutnya, bagaimana jika ada lebih dari satu agama yang lulus uji konsep ketuhanan? Berarti kita buat lagi standard yang adil untuk membandingkannya, misal: kitab sucinya atau pembawa agama tersebut. Tahap ini tidak dibahas di tulisan ini. Mungkin jika ada kesempatan akan dibahas di tulisan lain.

Di bagian ini adalah cara bagaimana saya menguji kebenaran konsep ketuhanan dalam Islam dan Kristen. Saya sangat menghormati jika ada yang tidak setuju dengan cara saya ini. Jika ada yang ingin didiskusikan pun saya sangat terbuka. Okay, mari kita mulai.

Pertama, coba lupakan dalil-dalil dari kitab suci baik Quran maupun Alkitab. Kenapa? Kalau kita mengacu pada Quran dan Alkitab maka kita menjadi tidak fair. Maksud saya, kalau rujukan kita Quran maka bisa jadi kita akan condong ke Islam, begitu juga jika kita merujuk ke Alkitab maka bisa jadi kita jadi akan condong ke Kristen.

Kedua, lalu apa rujukan kita? Jawabannya adalah akal dan logika. Kenapa? Karena semua manusia punya akal, tinggal mau dipakai atau tidak. Menentukan keputusan atau kesimpulan akan lebih adil dan tepat jika kita gunakan akal kita, bukan menggunakan perasaan.

Ketiga, sebisa mungkin jangan memutuskan/menyimpulkan dengan perasaan. Analoginya seperti ini: jika kita sedang sidang skripsi di kampus, lalu ditanya oleh penguji tentang argumen kita.  Namun, kita menjawab “berdasarkan perasaan saya bla bla bla…" . Apa jadinya? Gagal total studi kita bertahun-tahun di kampus.

Setelah caranya kita tentukan seperti yang disebutkan di atas, mari kita ujikan kedua konsep tersebut diatas. Tujuan kita adalah menentukan mana yang benar antara konsep Tauhid dan Trinitas. Karena hanya ada satu yang benar, maka otomatis satu yang lainnya salah. Maksudnya adalah jika Tauhid ini benar maka Trinitas itu salah. Begitu juga sebaliknya: jika Trinitas itu benar maka Tauhid itu salah.

Mari kita uji dengan pertanyaan:

Pertanyaan Pertama, Siapa Tuhan?

Dalam tauhid: Hanya Allah

Dalam Trinitas: Allah Bapa adalah Tuhan, Roh Kudus adalah Tuhan, Yesus adalah Tuhan

Pertanyaan Kedua, ada Berapa Tuhan?

Dalam Tauhid: Satu

Dalam Trinitas: Satu

Dari kedua pertanyaan tersebut, “terlihat” Tauhid lebih logis dan konsisten. Kenapa? Dalam trinitas ada tiga pribadi, namun trinitas tetap bilang bahwa hanya ada satu Tuhan. Apakah ini masuk akal dan logis? Bisa iya bisa tidak. Hal ini terjadi mungkin karena kita tidak paham tentang trinitas. Oleh karenaya mari kita uji lebih dalam tentang trinitias ini, baik secara konsep dan analoginya.

Senin, 26 April 2021

Alkitab tidak menyatakan bahwa Yesus itu Tuhan, Benarkah?

 By Panjul

Mungkin pertanyaan ini akan muncul jika Anda menonton debat semacam Ahmad Deedat dan Zakir Naik. Mereka membuat sebuah tantangan yang isinya kira-kira begini: Kalau ada pernyataan di dalam Alkitab (bible) yang menyatakan secara jelas (bukan Ambigu) bahwa Yesus berkata “Aku adalah Tuhan” atau “Sembahlah Aku”, maka mereka (Ahmad Deedat dan Zakir Naik) akan menerima Kristen saat itu juga.

Orang awam seperti saya mungkin akan berfikir, berani banget nih orang bikin taruhan dengan agamanya. Memang di acara debat tersebut, tidak ada yang dapat membuktikan bahwa ada pernyataan jelas di alkitab bahwa Yesus adalah Tuhan. Nah, saya jadi penasaran dan bertanya-tanya: apa benar tidak ada peranyataan seperti itu di alkitab? Kalau memang tidak ada, kenapa Yesus dianggap Tuhan oleh orang-orang Kristen?

Saya sangat sepakat bahwa jika ingin tahu suatu agama, maka lihatlah kitab sucinyanya. Contoh: jika ingin tahu islam maka bacalah Quran, bukan menilai dari orangnya atau ajaran di masjid. Begitu juga dengan agama Kristen, apabila ingin tahu Kristen maka bacalah Alkitabnya, bukan lihat orang Kristen atau ajaran gerejanya. Kenapa saya sepakat ini? Karena Quran, Alkitab, Weda, Taurat, dan kitab suci lainnya adalah kitab suci (bagi yang percaya) yang seharusnya menjadi rujukan paling fundamental. Sedangkan ajaran gereja atau ajaran di masjid bisa jadi tidak sesuai dengan kitab sucinya. Kita bisa amati, ada banyak aliran dalam agama apapun itu. Lalu yang benar yang mana? Dengan adanya kitab suci, maka kita punya standard untuk menentukan mana yang paling sesusai dengan kitab sucinya.

Balik ke pertanyaan “apa benar tidak ada peranyataan jelas seperti itu (Yesus adalah Tuhan) di alkitab?”. Terus terang saya tidak pernah memeriksa satu persatu ayat-ayat di Alkitab, banyak banget kalo ngecek satu-satu. Akhirnya saya browsing-browsing di website Kristen (dan Katolik). Ternyata, orang Kristen sendiri tahu bahwa memang tidak ada ayat atau pernyataan yang jelas (tanpa adanya ambigu) yang bilang bahwa Yesus itu Tuhan. Dibawah ini adalah dua website yang saya baca:

Okay, sampai sini saya jadi percaya bahwa memang tidak ada pernyataan seperti itu dalam Alkitab. Nah, pertanyaan sekarang adalah: Kalau memang tidak ada ayat yang menyatakan itu, mengapa orang Kristen menyembah Yesus. Setelah saya coba baca penjelasan di dua website di atas, yang saya tangkap adalah orang Kristen menafsirkan ayat-ayat (yang ambigu) yang ada dalam alkitab untuk diambil kesimpulannya yaitu Yesus itu Tuhan. Beberapa contoh yang dijelaskan dalam website tersebut adalah

  • Yohanes 10:30, “Aku dan Bapa adalah satu."
  • Yohanes 10:33, "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah"
  • Yohanes 8:58 “Sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada."
  • Yohanes 1:1 mengatakan, “Firman itu adalah Allah
  • Yohanes 1:14 mengatakan, “Firman itu telah menjadi manusia.”

Inti yang bisa saya ambil dari penjelasan website di atas adalah anggapan bahwa Yesus itu Tuhan berasal dari penafsiran ayat-ayat Alkitab yang memang ambigu. Dengan menafsirkan Yesus sebagai Tuhan maka terjadilah kontradiksi.

Beberapa contoh hal yang janggal jika menganggap Yesus sebagai Tuhan:

  • Yesus berdoa kepada Allah dan mengajarkan untuk menyembah Allah saja.  Ini menunjukkan Allah adalah Tuhan dan Yesus merupakan hamba Allah
  • Yesus mati disalib. Apakah Tuhan bisa mati? Apakah pantas sesuatu yang bisa mati disembah manusia
  • Yesus sendiri mengaku Nabi (Utusan Allah) di Yohanes 8:29

Coba bandingkan jika Yesus dianggap sebagai nabi atau utusan Allah, maka hal-hal yang janggal diatas tidak terjadi. Semuanya menjadi masuk akal. Yesus dapat menghidupkan orang yang sudah mati, menyembuhkan orang sakit, berbicara saat bayi, dan melakukan mukjizat lainnya karena izin Allah. Sama halnya dengan tongkat nabi Musa menjadi ular dan Nabi musa membelah lautan, semuanya atas izin Allah SWT. Inilah konsep yang diimani dalam islam. Umat islam memuliakan Isa As (Yesus). Tidak sah iman seorang muslim jika tidak mengimani bahwa nabi Isa adalah orang yang sangat mulia. Bahkan umat islam mengamalkan ajaran-ajaran nabi Isa yang paling utama yaitu hanya menyembah dan berdoa kepada Allah saja.

Jika ditanya Yesus itu Tuhan atau Nabi? Maka jawaban saya jelas bahwa Yesus (Isa As) adalah seorang Nabi yang mulia yang diutus oleh Allah SWT untuk kaum bani israil. Semoga Allah meneguhkan iman kita dalam Tauhid yang benar.


Kamis, 08 April 2021

Yesus Kristus atau Isa As itu siapa?

By: Panjul

Namanya Yesus Kristus dalam agama Kristen dan Isa As dalam agama Islam. Apakah Yesus Kristus dan Isa As adalah orang yang sama? Kalau kita lihat dari kisah-kisah dalam agama Kristen dan Islam, sepertinya mengacu pada orang yang sama. Kenapa? Kedua agama tersebut menceritakan hal yang sama contoh: dapat menghidupkan orang mati dan menyembuhkan orang buta. Oleh karena itu dalam tulisan ini, kita anggap Yesus dan Isa adalah orang yang sama.

Walaupun Yesus wajib diimani (dipercaya) di agama Islam dan Kristen, namun konsepnya sangat berbeda jauh. Dalam Kristen, Yesus itu adalah Tuhan (lebih tepatnya satu dari tritunggal). Dalam Islam, Yesus adalah utusan Tuhan (Nabi), sehingga derajatnya sama seperti nabi-nabi yang lain (Ibrahim, Musa, dan Muhammad).

Perdebatan Yesus sebagai nabi atau Tuhan bukanlah hal yang baru. Masing-masing agama punya dalil dari Kitab sucinya masing-masing. Permasalahannya adalah Agama Islam menganggap Alkitab sudah tidak asli, begitu juga sebaliknya Agama Kristen menganggap Alquran bukan lah wahyu dari Allah, melainkan karangan Nabi Muhammad. Sebenarnya bagi umat Islam atau Kristen tidak masalah karena masing-masing mereka sudah beriman dengan caranya masing-masing. Toleransi pun tetap harus terjaga antara penganut Islam dan Kristen.

Perbedaan pendapat ini juga mungkin salah satunya terjadi karena rujukannya berbeda (Alquran dan Alkitab), maka jelas kesimpulannya kemungkinan besar akan berbeda. Namun, yang ingin saya tuliskan kali ini adalah bagaimana menilai perbedaan ini jika kita lihat Konsep Yesus sebagai Utusan Allah (nabi) atau Tuhan sebagai hasil produk saja. Maksudnya begini, sekarang ada dua jenis pendapat mengenai Yesus, yaitu sebagai Tuhan dan sebagai Nabi. Kemudian, kita bandingkan konsep ini namun kita coba lupakan dalil-dalil Alquran dan Alkitab. Kenapa saya buat seperti ini? Karena Islam tidak mempercayai kemurnian Alkitab dan Kristen juga tidak percara bahwa Alquran adalah dari Tuhan. Jadi sekalian saja kita sejenak lupakan dalil-dalil kedua kitab rujukan itu dan kita gunakan akal kita yang sudah pasti semua manusia gunakan. Analoginya seperti ini: misal ada dua buah mobil, Avanza dan Ertiga. Kedua mobil ini dibuat oleh perusahaan berbeda. Namun, saya ga mau tahu bagaiamana proses pembuatan mobilnya yang jelas saya akan bandingkan di speknya.

Isa As dalam Islam

Saya akan mulai Isa As dalam Islam. Saya coba tuliskan sebisa saya dan mohon koreksinya jika ada yang salah. Dalam Islam, Isa As adalah salah satu Utusan Allah (nabi). Isa As diberikan mukjizat dapat menyembuhkan orang buta, mengidupkan orang mati, berbicara saat bayi, dan lain-lain. Semua mukjizat ini dapat terjadi semata-mata karena izin Tuhan (Allah SWT). Tanpa izin Allah, Nabi Isa ga bisa melakukan semua mukjizat tersebut. Orang Islam dianggap tidak beriman jika tidak percaya kepada Nabi Isa As sebagai nabi. Orang Islam pun harus menyebutkan Alaihissalam (As) setelah namanya sebagai bentuk pengormatan kepada beliau. Nabi Isa tidak mati disalib, yang disalib adalah orang yang wajahnya diserupakan oleh Allah SWT. Saat itu nabi Isa As diangkat oleh Allah dan akan kembali ke dunia sebagai salah satu tanda datangnya kiamat. Ini yang saya ketahui tentang nabi Isa As dalam Islam. FYI: saya orang islam (setidaknya di KTP saya) tapi masih cetek ilmunya, kebanyakan belajar ilmu dunia (engineering) dan mikir yang aneh aneh kayak bikin tulisan seperti ini. Jadi kalau ada pembaca muslim yang ilmunya tinggi dan melihat ada kesalahan dalam tulisan saya ini mohon dikoreksi ya.

Bagi saya tidak ada masalah dengan konsep seperti ini yaitu Isa As sebagai Utusan Allah: simple, tidak ada kontradiksi, dan semuanya dapat diterima dengan akal saya. Namun, kalau ada yang mau dibantah (khususnya pembaca yang beragama Kristen) silakan diskusikan di kolom komentar ya. Siapa tahu ada sudut pandang lain yang belum saya tahu. Tapi ingat, jangan bawa-bawa dalil karena kita coba lupakan dulu sejenak di sini.

Yesus Kristus dalam Kristen (dan Katolik)

Sebelum saya tulis lebih jauh, saya ingin bilang bahwa saya bukan orang Kristen. Jadi apa yang saya tulis disini hanya sebatas pengetahuan saya baik yang saya dapat dari membaca atau saya dapat karena didatangi misionaris. Salah satu sumber yang saya ambil adalah dari https://wanita.sabda.org/. Yang ambil dari sini adalah tulisan dari pendeta Immanuel Pakan. Oleh karena itu bagi temen-temen Kristen mohon koreksinya jika ada yang salah dari tulisan saya ini.

Dalam ajaran Kristen (dan Katolik), Yesus merupakan salah satu bagian dari Trinitas. Trinitas sendiri terdiri dari Bapa (Allah), Roh Kudus, dan Anak (Yesus). Yesus memiliki sifat keilahian sehingga dapat melakukan mukjizat seperti menghidupkan orang yang sudah mati. Yesus mengajarkan kepada murid-muridnya berdoa agar tidak jatuh dalam pencobaan. Yesus berdoa kepada Bapa agar cawan itu berlalu Pada-Nya. Yesus juga dianggap menebus dosa manusia dengan darah. Yesus mati disalib kemudian pada hari ketiga terjadi kebangkitan Yesus. Kemudian Yesus juga akan kembali ke dunia nanti. Inilah yang saya ketahui tentang Yesus. Sekali lagi jika ada yang salah mohon koreksinya.

Pada bagian ini, saya akan menuliskan pendapat saya. Mungkin tulisan dibawah ini agak sensitif. Tapi saya akan coba tuliskan sebaik mungkin. Bagi yang baperan atau mudah tersinggung sebaiknya skip saja bagian ini. Dengan konsep Yesus sebagai tuhan, akan banyak hal kontradiktif disini, ambigu, dan menimbulkan tanda tanya besar. Mari kita bahas:

Pertama, Yesus adalah anak Allah dalam trinitas. Ada yang mengartikan bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. Tapi, Yesus berdoa kepada Bapa (Allah), bukankah ini aneh? Jika Yesus adalah Allah maka dia tidak perlu berdoa kepada Allah karena dirinya adalah Allah. Apakah ada penjelasan lain?

Kedua, Yesus menebus dosa manusia. Orang yang menerima Dia sebagai juru selamat maka akan kekal disurga. Pertanyaannya, menebus dosa manusia kepada siapa? Saat kita menebus sesuatu maka tebusannya kita berikan ke seseorang atau lembaga tertentu. Misalnya saya menebus Hutang yang dimiliki oleh adik saya ke seorang rentenir. Artinya saya memberikan sejumlah uang ke rentenir tersebut sehingga adik saya lunas hutangnya. Sekarang, Yesus menebus dosa kepada siapa?  Jika tebusannya itu dikorbankan ke Tuhan, lalu Tuhannya siapa? yang jelas pasti bukan Yesus. Lagi pula jika Yesus adalah Tuhan, ngapain nebus dosa, lebih baik ampuni saja dosa kan dia Tuhannya.

lebih lagi, bagi saya ini tidak adil sekali. Artinya jika orang menerima Dia sebagai juru selamat, lalu tinggal berbuat maksiat saja, toh akan masuk surga juga. Dibandingkan islam, yaitu: semua perbuatan sekecil apapun pasti akan diminta pertanggung jawaban di akhirat nanti. Manakah yang lebih adil?

Ketiga, Yesus mati disalib. Bagi saya ini fatal sekali. Tuhan seharusnya tidak mati. Buat apa menyembah pada suatu yang dapat mati. Dalam konsep trinitas pun terasa bahwa Bapa (Allah) adalah yang abadi dan Yesus pun berdoa kepada Allah. Lalu kenapa kita harus menganggap Yesus sebagai Tuhan?

Kemudian, jika kita coba hubungkan dengan konsep trinitas, Yesus mati selama 3 hari kemudian bangkit. Artinya selama 3 hari, hanya ada 2 anggota Trinitas saja. Berarti  Setidaknya selama 3 hari ada kekosongan posisi Anak Allah

Sebenarnya saya sudah coba cari diskusi untuk 3 hal diatas. Namun, yang sering saya dapatkan diakhir diskusi tersebut adalah jawaban seperti “inilah misteri Tuhan, kita tidak akan mengerti”. Saya fikir konsep ketuhanan adalah yang paling fundamental dalam agama. Oleh karena itu sifatnya harus universal yang dapat diterima manusia, yaitu akal.

Saya bersyukur dilahirkan islam, walaupun pemahamannya masih dangkal. Lalu, dengan mencoba mempelajari konsep trinitas, justru saya semakin yakin bahwa keesaan Allah yang diajarkan oleh islam adalah yang benar. Saya tidak ingin beragama hanya karena keturunan saja, tapi harus dengan akal juga. Semoga Allah selalu menetapkan iman islam pada saya selalu.

Selasa, 06 April 2021

Tuhan agama apa yang benar?

 Oleh: Panjul

Kesimpulan yang bisa diambil dari pembahasan sebelumnya (“Apakah tuhan itu ada?”) adalah bahwa tidak mungkin jika Tuhan itu tidak ada. Dengan kata lain, Tuhan itu pasti ada. Bahkan, jika teori evolusi itu benar, maka tetap tidak mungkin jika tidak ada Tuhan. Artinya tidak ada hubungan antara orang yang percaya bahwa teori evolusi itu benar dengan keateisan. Menurut pendapat saya, keateisan terjadi karena menolak berfikir secara logis atau sebaliknya mereka berfikir tapi tidak pada hal yang fundamental.

Di tulisan sebelumnya kita hanya membahas bahwa Tuhan adalah sang pencipta yang tidak diciptakan. Oleh karenanya, kali ini kita coba berfikir dengan logika secara pelan-pelan untuk mengenali sifat-sifat Tuhan berdasarkan akal yang kita miliki. Kenapa dengan akal? Karena semua manusia punya akal. Pasti Tuhan memberikan kelebihan ini kepada manusia untuk berfikir. Seperti sebelumnya, kita lupakan dulu pelajaran agama yang kita pernah dapatkan agar kita bisa berfikir seobjektif mungkin.

Tuhan berhak disembah salah satunya karena dia yang menciptakan alam semesta ini, termasuk kita di dalamnya. Namun mungkin kita bertanya-tanya siapa Tuhan yang harus kita sembah itu? Apakah dia memerintahkan untuk disembah? Jika iya siapa Tuhan itu? Nah di sini kita coba berfikir dengan akal bahwa Tuhan haruslah mempunyai sifat-sifat yang tidak boleh tidak ada padaNya.

1.       Tuhan hanya satu, tidak ada saingan, tidak ada yang sama denganNya

 Tuhan tidak boleh lebih dari satu. Kenapa? Karena dia pencipta yang paling awal alam semesta ini (ruang dan waktu). Karena Dia menciptakan waktu oleh karena itu  sebelum waktu sendiri itu ada, maka Dia sudah ada. Segala sesuatu yang “paling” (the most), pasti hanya satu. Coba bayangkan, misalnya Tuhan ada dua atau lebih, maka akan jadi pertanyaan: siapa yang lebih dahulu ada? kok bisa ada lebih dari satu? Siapa yang lebih kuat? Siapa yang lebih berkuasa? Dst. Pertanyaan-pertanyaan seperti tidak bisa diarahkan ke Tuhan, jika Tuhan hanya ada satu, yaitu yang paling (maha) awal, maha pencipta, maha kuat, dst. Dengan kata lain Tuhan juga memiliki sifat tidak ada saingan atau tidak ada yang setara denganNya.

2.       Rupa Tuhan tidak bisa dibayangkan atau digambarkan

Secara sadar atau tidak, sebenarnya kita ini terpenjara di dalam ruang dan waktu. Ruang yang kita tempati saja terbatas di dimensi ruang (terabats di 3 Dimensi) dan waktu. Waktu juga terbatas hanya bisa maju, tidak bisa mundur (setidaknya hingga sampai saat ini belum ada mesin waktu). Kita bisa membayangkan sesuatu yang dimensinya lebih rendah dari kita, contoh lukisan (2 dimensi). Tapi bagaimana untuk hal yang lebih dari dimensi 3? Bisakah kita membayangkan sesuatu benda dari dimensi 5?

Tuhan yang menciptakan dimensi ruang dan waktu, artinya Dia terbebas dari semua dimensi yang dia ciptakan. Oleh karenanya tidak mungkin kita bisa membayangkan rupa Tuhan, apalagi menggambarnya atau membuat patung. Rupa Tuhan pasti berbeda dari apa yang kita fikirkan atau bayangkan.

Dengan dua sifat Tuhan yang dibahas di atas maka akan lebih mudah bagi kita untuk mencari tahu siapa Tuhan yang sebenarnya. Kok begitu?

Oke mari kita lanjutkan. Di bagian ini mari kita mulai mengingat pelajaran agama. Pertanyaannya sekarang, apakah Tuhan berkomunikasi dengan makhluknya? Dengan siapa? Bagaimana caranya?

Sekali lagi, Tuhan memberi kita akal. Oleh karenanya, jika Tuhan ingin berkomunikasi dengan makhluknya untuk mengenalkan diriNya, pastilah dengan konsep yang diterima dengan akal. Jika tidak bisa diterima dengan akal maka komunikasi itu rusak atau tidak ada gunanya.

Ada banyak agama di dunia ini dengan konsep ketuhanan yang berbeda-beda. Agama-agama tersebut dimulai dari seseorang dan menyebar. Ada yang mengaku orang tersebut adalah Tuhannya atau ada yang membuat konsep bahwa sesuatu (api, matahari, dan lain-lain) sebagai Tuhannya. Selain itu, adapula agama yang dimulai dari seorang yang mengaku berkomunikasi dengan Tuhan untuk diajarkan ke manusia lainnya. Saat ini, dapat dibilang agama mayoritas di bumi adalah agama dengan jenis ini. Masalahnya agama jenis ini tidak hanya satu sehingga kita harus berfikir dengan matang untuk memilih salah satu dari agama tersebut. Memilih agama sebaiknya tidak dengan perasaan, karena perasaan mudah sekali berubah sehingga akan menjadi sangat subjektif. Oleh karena itu akal harus digunakan dalam hal ini sehingga lebih objektif. Konsep ketuhanan harus bisa diterima akal sehat, kenapa? Karena kita diberikan akal oleh Tuhan untuk mengerti. Konsep ketuhanan adalah konsep yang paling fundamental sehinga semua orang yang ingin menggunakan akalnya bisa menerimanya. Saya ingin menjadi orang yang beragama karena akal saya, bukan hanya karena keturunan, paksaan, ataupun perasaan. Banyak orang yang mengaku pernah mengalami perjalanan spiritual kemudian menjadi percaya kepada suatu agama tertentu. Lalu orang tersebut menceritakan kisah spiritualnya ke orang lain sehingga orang lain mengikuti ajaran agama tersebut. Bagi orang lain mungkin ini bisa diterima sebagai alasan untuk menmpercayai agama tertentu. Tapi, bagi saya ini sangatlah subjektif sehingga saya tidak mau mempercayai suatu agama karena alasan ini. Jika agama karena keturunan saya sejalan dengan pemikiran saya, itu suatu anugerah bagi saya. Jika tidak, mungkin saya harus menjelaskan ini ke orang-orang sekitar saya.

Oke, kita lanjutkan. Di bagian ini mungkin agak sensitif,  oleh karena itu saya ingin mengatakan bahwa: saya sangat menghormati jika ada orang lain yang memiliki cara berfikir atau keyakinan yang lain. Tulisan ini hanyalah pendapat saya mengenai cara berfikir saya mengenai Tuhan dan memilih agama sehingga saya beragama bukan karena tanpa alasan yang logis. Seandainya ada pembaca yang tidak dapat menerima perbedaan pendapat, silakan skip bagian dibawah ini. Saya juga akan gunakan kata “saya” saat menjabarkan pemikiran saya

Saya sudah punya dua syarat Tuhan yang tidak boleh tidak dimiliki oleh Tuhan. Dengan cara ini saya dapat mengeliminasi agama-agama yang menurut pendapat saya tidak benar karena tidak memiliki persyaratan tersebut. Saya tidak ingin menyebutkan agama2 yang tereliminasi tersebut. Mungkin saya akan bahas di tulisan saya yang lain mengenai ini.

Untuk memahami konsep ketuhanan dari suatu agama, yang bisa kita lakukan ada dua: baca kitab sucinya dan bertanya pada pemuka agamanya. Merujuk ke kitab sucinya adalah yang paling tepat karena tidak akan berubah. Sedangkan pemuka agama juga manusia yang terbatas ilmunya dan ia pun harus merujuk ke kitab sucinya. Namun, kita bisa bertanya ke pemuka agama jika tidak mengerti isi dari kitab suci. Dari semua agama yang saya tahu, hanya Islam yang memiliki konsep persis dengan dua persyaratan tersebut di atas. Dan pernyataan ini dalam kitab sucinya pun jelas tanpa ada ambiguitas. Contoh pernyataan tersebut adalah surat 112: ayat 1 -4. Di sini saya coba tuliskan artinya:

  1. Katakanlah, Dialah Allah yang maha esa
  2. Allah tempat meminta segala sesuatu
  3. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan
  4. Tidak ada yang setara dengan Dia

Ayat 1 dan ayat 4 sangat persis dengan syarat pertama yang dibahas di atas. Apakah ada agama lain yang memiliki konsep seperti ini? Seandainya ada agama lain dengan konsep ketuhanan yang sama, maka perlu perbandingan lebih jauh dan mendalam.

Sebenarnya persyaratan nomor satu itu dapat diistilahkan dengan dengan monoteisme. Pancasila dalam sila pertama juga menyatakan “Ketuhanan yang maha esa”. Di Indonesia memiliki 6 agama yang diakui, yaitu: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghuchu. Kenapa saya nyatakan bahwa “dari semua agama yang saya ketahui, hanya Islam yang memiliki konsep murni monotheisme?” Pertama saya tidak tahu dengan pasti konsep ketuhanan selain Islam, Kristen, dan Katolik. Sedandainya ada yang mau memberikan penjelasan tentang agama-agama ini saya akan sangat berterima kasih. Sedangkan Kristen dan Katolik memiliki konsep trinitias atau tritunggal. Namun, akal saya tidak bisa mengerti konsep trinitas ini.  Biasanya diskusi trinitas akan berakhir pada jawaban seperti "trinitas itu misteri" atau "hanya tuhan yang tahu" atau dengan kata lain akal kita tidak bisa mengerti konsep ini, jadi yang bisa dilakukan adalah percaya saja tanpa harus berfikir. Saya tidak mau memilih agama dengan cara seperti ini, kenapa? bagi saya konsep ketuhanan harus bisa dimengerti secara akal karena Tuhan sudah memberikan akal kepada kita. Berbeda dengan sains yang terus berkembang yang mungkin saat ini belum bisa dijelaskan tapi suatu saat dapat dijelaskan, konsep ketuhanan harus bisa diterima secara universal sejak manusia pertama di dunia ini. 

Mungkin, saya akan tulis khusus pemikiran saya mengenai trinitas dalam tulisan yang lain.