By panjul
Sekarang kita uji lebih dalam tentang TRINITAS karena pada
uji sebelumnya TRINITAS memiliki masalah dengan konsepnya, sedangkan Tauhid
tidak ada masalah. Jika ada yang berfikir bahwa Tauhid juga bermasalah, silakan
didiskusikan di komentar. Namun perlu diingat, yang kita uji adalah konsepnya
bukan dalilnya. Oleh karena itu jangan bawa-bawa dalil dari Quran dan Alkitab
untuk berdiskusi di tahap ini.
Oke mari kita mulai dari inti Trinitas yang ini:
Allah Bapa BUKAN Yesus BUKAN Roh Kudus
Yesus BUKAN Allah Bapa BUKAN Roh Kudus
Roh Kudus BUKAN Allah Bapa BUKAN Yesus
Allah Bapa adalah Tuhan, Yesus adalah
Tuhan, Roh Kudus adalah Tuhan
‘’’
Kalau saya pelajari lebih dalam, keempat
kalimat di atas adalah premis. Jadi belum ada kesimpulannya. Dari tiga premis
pertama menyatakan bahwa Allah Bapa, Yesus dan Roh Kudus adalah tiga objek yang
berbeda. Kalimat keempat menyatakan siapa itu masing-masing dari tiga objek
tersebut. Kalau kita mengacu pada keempat kalimat ini, maka kesimpulannya adalah
Tuhan ada tiga. Jika belum mengerti mari kita coba analogikan seperti ini:
Acong BUKAN Joko BUKAN Sitorus
Sitorus BUKAN Joko BUKAN Acong
Joko adalah polisi, Acong adalah Polisi, Sitorus adalah Polisi
(note: mohon maaf jika ada nama yang sama dengan yang di atas)
Analogi diatas saya buat setara dengan Trinitas. Dengan menggunakan analogi tersebut, mari kita uji dengan peratanyaan serupa:
Pertanyaan satu: Siapa polisi?
Jawaban: Joko adalah polisi, Acong adalah
Polisi, Sitorus adalah Polisi
Pertanyaan dua: Ada berapa polisi?
Jawaban: tiga
Dengan penjelasan Trinitas seperti itu, maka kesimpulannya adalah Tuhan ada tiga. Berdasarkan syarat Tuhan dalam tulisan lain, yaitu Tuhan haruslah satu (Esa). Artinya, jika penjelasan trinitas adalah seperti ini, maka Trinitas itu tidak benar karena menganggap Tuhan ada tiga.
‘’’
Contoh #1: Persatuan Indonesia
Indonesia terdiri dari 250 juta pribadi. Lalu
Indonesia ada berapa? CUMA SATU.
Tuhan terdiri dari tiga pribadi. Lalu Tuhan
ada berapa? ya CUMA SATU
‘’’
Kalau analoginya seperti ini, maka
kesimpulannya adalah baik Allah Bapa, Yesus, dan Roh Kudus bukanlah Tuhan. Mereka
menjadi Tuhan hanya jika berkumpul menjadi satu. Tapi masing-masingnya bukan
Tuhan. Mari kita tinjau lebih dalam “Indonesia terdiri dari 250 juta pribadi.
Lalu Indonesia ada berapa? CUMA SATU.” Tidak ada yang salah dengan dengan
logika ini. Tapi, kalau saya ambil satu penduduk (pribadi) Indonesia, apakah
dia Indonesia? Jawabannya: dia bukan Indonesia, tapi penduduk Indonesia.
Indonesia ada karena adanya 250 juta pribadi, tapi masing-masing pribadi
bukanlah Indonesia. Analogi ini justru menjelaskan bahwa Tuhan adalah
organisasi yang terdiri dari tiga anggota. Organisasi terdiri dari beberapa
anggota yang memiliki satu tujuan. Masing-masing anggota tersebut secara
pribadi bukanlah organisasi tersebut, tapi hanya anggota organisasi.
‘’’
Contoh #3: Alkitab ada banyak atau cuma satu?
Sama saja sih sebenarnya seperti contoh #1,
namun saya akan menggunakan contoh Alkitab.
Misalnya di rumah anda punya beberapa Alkitab
dengan ukuran berbeda-beda, ada yang besar, ada yang kecil, ada pula Alkitab di
smartphone anda.
Artinya apa? Secara esensi ALKITAB itu cuma
ada SATU, karena dari berbagai jenis Alkitab yang anda miliki, semuanya adalah
sama, yaitu Firman Tuhan.
‘’’
Saya fikir ini analogi yang ini lebih baik dibandingkan analogi sebelumnya. Mari kita pikirkan lebih dalam. Dengan adanya tiga alkitab berbeda, maka secara esensi alkitab ada satu karena isinya sama. Esensi dari alkitab adalah isinya, bukan fisiknya. Jadi kesimpulannya walaupun secara jumlah ada tiga, tapi secara esensi cuma satu. Dalam konteks ini, dikatakan satu jika esensinya (isinya) sama.
Sekarang mari kita analisis Trninitas dengan
analogi diatas. Jumlah pribadi Tuhan ada tiga, tapi secara esensi adalah satu. Saya tebalkan frase “secara esensi” karena
inilah yang (mungkin) membuat trinitas menjadi logis. Nah sekarang
pertanyaannya, apa esensi Tuhan? Saya sudah pernah membahas tentang syarat
Tuhan di tulisan saya sebelumnya. Saya fikir esensi Tuhan adalah esa, tidak ada
saingan, tidak ada yang sama dengannya. Tuhan adalah sang pencipta sehingga Dia
tidak terjebak oleh ciptaannya termasuk ruang dan waktu. Dengan esensi Tuhan
seperti ini, mari kita bahas lebih dalam. Untuk Allah Bapa dalam Kristen tidak ada
masalah dengan esensi Tuhan karena Dia memiliki syarat ketuhanan. Bagaimana
dengan Yesus? Dalam kepercayaan Kristen Yesus lahir dari seorang Maria,
kemudian Mati disalib, kemudian Bangkit (Mohon koreksi jika salah). Karena
Yesus mengalami proses kelahiran dan kematian. Ini tidak sesuai dengan esensi
Tuhan yang saya bahas sedikit di atas. Ini juga berarti Yesus tidak abadi
karena baru ada setelah Ia dilahirkan.
Apa kesimpulan dari analogi ini?
Jika ditinjau secara esensi, maka Yesus bukanlah Tuhan
Jika ditinjau dari segi jumlahnya, maka Tuhan ada tiga
Jika saya rangkum dari semua pembahasan diatas, maka setidaknya ada tiga kesimpulan dari masing-masing penjelasan TRINITAS yang berbeda:
- Kesimpulan premis-premis Trinitas: Tuhan itu ada tiga
- Kesimpulan analogi 1: Ketiganya bukan Tuhan (masing-masing hanya anggota organisasi Tuhan)
- Kesimpulan analogi 3: Yesus bukan Tuhan atau Tuhan ada tiga
(Notes: Oh ya jika ada bertanya kenapa analoginya 1 dan 3, itu karena dalam website rujukannya sebenarnya ada analogi ke 2. Tapi ini analogi ke 2 tidak saya bahas karena sangat tidak jelas. Penulisnya membahas 1+1+1=3 dengan 1*1*1=1. Bagi saya ini argumentasinya sudah cacat secara logika, jadi saya agak males membahasnya. Silakan langsung saja ke website aslinya jika ingin membacanya.)
Secara akal dan logika, konsep trinitas memiiliki kesimpulan yang masih ambigu (memiiliki beberapa makna). Dan parahnya lagi semuanya saling bertentangan. Saya beberapa kali mencoba mencari diskusi tentang Trinitas seperti ini, namun yang sering kali terjadi di akhir diskusi adalah pernyataan seperti “ini adalah misteri” atau “akal kita tidak mampu menjangkaunya”. Lalu apakah kita harus memilih dengan cara misteri pula? Seperti yang saya sebutkan di awal, memilih agama harus dengan hati-hati karena implikasinya kehidupan di akhirat. Jadi kita seharusnya punya argumentasi yang kuat dalam memilih agama.
Dengan adanya permasalahan logika dalam trinitas seperti ini, saya pribadi tidak mau ambil resiko untuk akhirat saya. Semoga Allah SWT selalu menjaga iman saya dalam Tauhid yang lurus.